Sky Diver (series)



Chapter 1


Squab Park sore itu tidak begitu ramai. Hanya ada 3 anak kecil yang sedang bermain sambil memberi makan burung  burung dara yang berkerumun, yang memang menjadi ciri khas Squab Park. Sepasang pemuda pemudi yang duduk di bangku taman depanku sedang asyik bercanda dengan mesranya. Seorang nenek berusia sekitar 60 tahun di bangku taman lain sambil membaca buku, tampak serius. Aku hanya memandangi gerobak hot dog yang ada di dekat pintu gerbang taman. Perutku sedari pagi belum diisi apapun. Dan sialnya, sore ini mulai berteriak minta diisi makanan. Aku melihat ke jam di tanganku, pukul 16.35. Lama sekali menunggu Josh datang. Kuambil iPod silver dari backpack hijauku yang sudah berubah warna. Aku memasang headphone hitam dove ku dan menyetel iPod ku dengan volume cukup keras. Beberapa burung dara menghampiri kakiku, berharap ingin diberi butiran biji jagung mungkin.
Seorang pemuda, seumuranku datang dengan menenteng papan skate di tangan kiri dan sebotol Gatorade di tangan kanannya. Melambai ke arahku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya. Rambut hitam pekatnya yang tebal tampak berantakan terkena angin, kaos band dan jaket hitam yang dipakainya sedikit kotor. Jangan tanya bagaimana jeans abu yang dipakainya seperti apa. Hobinya bermain skate dipadu dengan kecerobohannya membuatnya tampak seperti anak kecil yang baru belajar berjalan. Sering jatuh. Tapi walaupun begitu, mata hijaunya selalu bersinar penuh semangat. Zachary Lionel, Zac.
“Hai, Blake” sapanya, lalu duduk di sampingku. Mengeluarkan sebatang cokelat yang tinggal separuh dan menawarkannya padaku. Aku meraih cokelat itu dan memasukkannya ke mulutku. Dark chocolate, selalu menjadi kesukaanku.
“Lama sekali” omelku dan melepas headphoneku untuk aku simpan ke dalam tas.
“Sorry, tadi Joan memintaku membantunya membetulkan sepedanya” Zac membersihkan debu yang ada di lutut celana jeansnya. Sebenarnya usaha itu tak begitu memeberi pengaruh pada kumalnya celana jeans abunya itu.
“Lagi?” tanyaku heran. Mengapa orang seperti joan sering sekali menjadi target Brodie dan kawan kawannya untuk dikerjai. Yah, siapa kuat dia yang berkuasa memang sanganta berlaku terutama di dunia remaja kelas 11. Zac hanya mengangkat bahu.
“Jadi, bagimana tentang tawaran minggu lalu itu? Apa kamu akan menerimanya?” Zac menatapku. Tawaran yang dimaksud adalah ajakan paman Chris dan bibi Lucy padaku agar aku mau tinggal bersama mereka setelah kematian ayah dan ibuku di meksiko dua minggu lalu. Ayah dan ibuku adalah arkeolog di sebuah museum nasional, mereka sering sekali bepergian ke luar negeri untuk mencari peninggalan peninggalan bersejarah. Dulu sewaktu kecil aku sering ikut mereka, tapi semakin besar aku semakin malas karena merasa tidak cocok hidup berpindah pindah dari satu tempat ke tempat lain dalam jangka waktu dekat.
“Sepertinya tidak” jawabku singkat. Zac memandangku tak percaya.
“Tapi kamu akan tinggal sendiri nantinya?” tanyanya lagi. Aku mengangguk. Sebelum tragedi yang merenggut nyawa kedua orang tuaku, toh aku memang sudah terbiasa hidup sendiri di asrama. Jadi sebenarnya tidak terlalu berbeda keadaanya.
“Yah, aku malas harus beradaptasi lagi dengan lingkungan baru. Nanti saja kalau sudah lulus baru aku pikirkan. Lagipula biasanya aku memang sudah sendiri kan?” jawabku sambil mengunyah cokelat yang diberikan Zac.
“tapi kan keadaanya berbeda sekarang. Kamu tidak punya orang tua yang akan bertanggung jawab padamu lagi, Blake” Zac masih menatapku.
“Tenang saja. Aku bisa mengurus diriku sendiri, Zac. Paman Chris mengerti dengan keputusanku” aku hanya tak mau merepotkan adik ayahku itu. Walaupun paman Chris dan bibi Lucy tak memiliki anak, aku tahu pekerjaan paman Chris sebagai walikota dan tante Lucy sebagai jaksa cukup merepotkan.
“Terserah kamu sajalah. Kamu selalu keras kepala” Zac menyerah menghadapiku. Seorang pria setengah baya dengan fedora cokelat seperti sedang mengawasi kami. Atau hanya perasaanku saja yang terlalu berlebihan.akhirnya Zac mengajakku membeli hot dog saat mendengar bunyi perutku. Mungkin burung burung dara disana hidupnya lebih makmur ketimbang diriku saat ini

Malam itu mimpi buruk yang sama datang lagi. Aku sedang berkemah di tengah hutan lebat yang gelap, saat tiba-tiba aku mendengar suara mesin kencang dari langit yang membuatku keluar dari tenda. Aku melihat sebuah pesawat yang tidak terlalu besar tampak oleng tak terkendali. Pesawat itu akhirnya jatuh dan meledak dengan suara yang sangat kencang. Tapi tak ada siapapun di sekitarku. Aku hanya terdiam terpaku. Tak bisa melakukan apa apa melihat kobaran api itu merambat mehghabiskan pepohonan yang ada di hutan itu. Aku terbangun, dengan keringat di sekujur tubuhku. Nafasku memburu. Hening. Cherryl, teman sekamarku tampak masih tertidur pulas. Aku menyalakan lampu meja di sebelahku dan meraih segelas air. Menenangkan diriku. Mimpi yang sama semenjak kematian ayah dan ibu. Mungkin aku masih belum bisa menerima kepergian mereka yang terlalu mendadak dan cara yang tak bisa aku bayangkan.
   Kadang aku selalu berharap ayah dan ibuku memiliki pekerjaan layaknya orang tua normal lainnya. Bukan pekerjaan yang tak jelas seperti menjadi arkeolog. Tapi semakin lama aku mulai mengerti dengan keputusan dan pilihan mereka. Selama aku tahu mereka selalu menyayangiku dimanapun mereka berada.
 Sudah empat tahun aku tinggal di asrama, dengan kamar dan teman yang berbeda. Tapi suasananya selalu saja sama. Sepi. Hanya ada fotoku bersama kedua orangtuaku saat kami di Cina yang sedikit menghiburku. Saat seperti ini yang membuatku tergoda untuk menerima tawaran paman Chris dan bibi Lucy tinggal dengan mereka. Aku mengambil handphoneku dan mencari nomor Zac.

“Kamu yakin mimpi itu bukan suatu pertanda atau apa?” tanya Zac saat aku memberi tahunya tentang mimpi buruk yang selalu mendatangiku beberapa hari belakangan ini. Aku menghabiskan potongan terakhir sandwich tunaku dan menutupnya dengan segelas jus apel sebagai makan siangku.
“Tidak tahu, mungkin karena aku belum bisa menerima kenyataan saja” jawabku. Diluar aku mungkin terlihat kuat, tapi aku tahu di dalam hatiku aku masihlah seorang anak yang membutuhkan sosok orang tua dan akan sangat sedih kehilangan mereka.
“Kamu yakin itu pesawat yang dinaiki orang tuamu?” Zac bertanya padaku dengan nada menginterogasi. Topik pembicaraan ini tampak lebih menarik daripada nacho di depannya.
“Sepertinya bukan. Setahuku pesawat milik Rhumb Museum tidak seperti itu” aku berusaha mengingat pesawat yang sering aku dan orangtuaku naiki saat kami harus berpindah tempat. Pesawat dengan ukuran sedang berwarna merah, bukan pesawat hitam dengan garis kuning seperti mimpiku semalam.
“Mungkin pesawatnya baru” aku hanya mengangkat bahu dan membuka buka catatanku untuk persiapan ujian sejarah setelah jam makan siang ini berakhir. “Kamu sebaiknya berdoa sebelum tidur” lanjutnya. Aku hanya menatap dan mencibir ke arahnya. Wejangan yang diberikannya sangat tidak membantu.
“Nanti pulang sekolah antar aku ke Rhumb Museum ya? Aku diminta untuk membawa barang barang orang tuaku yang masih ada disana” pintaku setelah mendengar bel tanda berakhirnya jam istirahat dari speaker kafetaria.
“Oke”  Zac pergi meninggalkanku dan kembali ke kelasnya. Aku dan Zac memang tidak satu kelas. Aku mengenalnya saat aku dan dia masih aktif dalam klub baseball yang kami ikuti saat kami kelas 8. Entah karena sifat cepat bergaul dan suka bercandanya, atau kebaikannya menyapaku saat aku duduk sendirian di kafetaria yang membuat kami berteman. Yang pasti hingga saat ini kami masih berteman. Atau lebih tepatnya dialah teman terbaikku. Karena walaupun aku memiliki teman kamar asrama, hubunganku dengan Zac tak pernah berakhir. Tidak seperti hubunganku dengan teman sekamarku yang berakhir ketika mereka pindah kamar dan aku mendapatkan teman sekamar baru. Dan itu terjadi cukup sering.
___________________________________________________

CHAPTER 2

Rhumb Museum adalah sebuah museum bertaraf internasional yang sangat megah. Bisa dibilang museum ini adalah landmark dari kota ini. Berbagai macam artefak sejarah, fosil dan barang antik lain yang berasal dari berbagai tempat di dunia ada di sana. Berarsitektur art deco dengan dominasi warna kuning gading dan beberapa ornamen tembaga bahkan emas sebagai hiasannya, museum ini tampak mewah. Tidak suram seperti kebanyakan museum lain.
“Halo, Blake” Peter, pegawai informasi Rhumb Museum yang sudah sangat aku kenal, menyapaku saat aku dan Zac menghampirinya
“Hai, Peter” balasku. “aku diminta Mrs. Violet untuk mengambil barang milik ayah dan ibuku. Sebenarnya sudah seminngu lalu Mrs. Violet menghubungiku, tapi aku baru sempat sekarang” aku menjelaskan kedatanganku padanya. Sebenarnya aku belum siap melihat dan mengenang lagi tempat dimana kedua orang tuaku bekerja dan teringat lagi pada mereka. Peter terdiam sesaat. Wajahnya tampak iba padaku. Aku berusaha mengabaikannya, karena setiap aku menerima tatapan itu, itu membuatku menyadari bahwa aku adalah orang yang patut dikasihani.
“Saya turut berduka cita, Blake” katanya kemudian. Aku hanya mengangguk. “Tunggu sebentar ya, saya akan memberitahu Mrs. Violet kamu datang”  aku mengangguk. Zac yang menyandar di meja informasi sambil mengunyah permen karet memperhatikan ke sekeliling rhumb museum yang saat itu sudah sepi pengunjung karena sudah hampir jam 5 sore. “Blake, Mrs.violet bilang kamu langsung ke kantornya saja” Peter menunjukkan lorong panjang yang di setiap sisinya digantungi lukisan bergaya victoria. Aku mengangguk dan mengajak Zac menyusuri lorong itu.
Tidak banyak yang berubah dari lorong itu sejak pertama kali aku meleawatinya tahunan lalu. Lorong yang dulu aku pikir amat sangat jauh dan tinggi itu, ternyata kini tampak biasa biasa saja. Aku yang dulu takut melihat lukisan para raja dan pemandangan yang suram itu kini tidak lagi merasakan perasaan itu lagi. Akhirnya aku sampai di depan sebuah pintu kayu bercat cokelat tua yang kontras dengan warna gading tembok museum. Aku mengetuk pintu itu pelann namun kuat untuk memastikannya terdengar sampai ke dalam. Karena seingatku ruangan Mrs. Violet sangat luas. Aku takut ketukanku tak terdengar olehnya. Zac memasukkan sisa permen karetnya ke plastik pembungkusnya dan menyimpannya di saku jeansnya. Entah sudah berapa tumpuk bekas permen karet yang ditemukan ibunya di setiap sakunya. Kebiasaan Zac, yang entah baik atau buruk.
   Sebuah suara terdengar dari dalam mempersilahkanku masuk. Kubuka perlahan kenop berwarna tembaga itu. Semerbak lavender menyeruak dari dalam ruangan itu. Seorang wanita berusia hampir 50 tahun duduk di balik meja dari kayu jati besar berisi tumpukan kertas dan buku buku. Rambut sebahunya yang selalu dibiarkannya terjatuh kini mulai terlihat abu-abu. Namum wajahnya masih bersahaja namun terlihat pintar dan tegas dengan kacamata tanpa bingkainya. Violet Johanson, adalah pemilik Rhumb Museum. Dia adalah teman baik ayah dan ibuku semasa kuliah, walaupun umur mereka terpaut cukup jauh.
Mrs. Violet berdiri dari balik mejanya dan menghampiriku. Dengan celana warna khaki serta blouse putihnya dia berjalan ke arahku dan memelukku.
“Blake, bagaimana kabarmu?” tanyanya setelah mencium keningku. Terlihat cemas akan keadaanku.
“Baik, vio” jawabku. Vio adalah panggilan kesayanganku untuknya. Dia sudah seperti keluargaku sendiri. Mungkin dia pun berpikir demikian padaku. Karena dia selalu memperhatikan dan memanjakanku setiap kali aku main ke rhumb museum. “Maaf aku baru sempat datang. Ada beberapa hal yang harus aku urus, Vio” lanjutku menjelaskan keterlambatanku menanggapi panggilannya minggu lalu. Violet tersenyum mengerti. Dia menyapa Zac, yang memang sudah dia kenal karena aku sering mengajak Zac ke rhumb museum.
“Tak apa, sayang. Tadinya aku justru ingin menyuruh beberapa pegawai mengantarkannya ke rumahmu. Kamu tampak lebih kurus” katanya setelah memperhatikanku lebih seksama. Aku pun merasa demikian, nafsu makanku yang sedikit menurun, jam istirahat yang tidak berkualitas akibat mimpi buruk yang aku alami dan beberapa hal lain yang harus aku pikirkan.
“Oh iya?” tanyaku berusaha terdengar terkejut dengan komentar Mrs.Violet. padahal aku tahu sekali bagaimana pantulan diriku di cermin pagi tadi. Seorang gadis kurus dengan lingkaran hitam di bawah mata dan rambut ikal sebahu yang tak keruan lagi. “Kira kira berapa banyak barang yanag akan saya bawa, Vio?” aku bertanya padanya berusaha mengalihkan pembicaraan. Mrs. Violeta tampak sedikit risau.
“Sebenarnya tak banyak. Hanya beberapa barang pribadi saja. Karena sebagain besar barang mereka disimpan di sini” jawabnya. Aku menangkap ekspresi bimbang dari raut wajahnya. “Tapi sebenarnya ada beberapa masalah, Blake” lanjutnya sambil menatap serius padaku. Perasaaanku semakin tak enak. Entah mengapa belakangan ini aku sering sekali mengalami hal hal buruk. Mungkin karena pikiranku yang sedang tidak fokus atau entah aku sedang diselimuti oleh energi negatif.
                “Memangnya ada apa?” tanyaku dengan nada penasaran. Susah menyembunyikan ekspresi penasaran dan curigaku.
“Dua hari lalu ruangan oran tuamu dimasuki pencuri. Sangat berantakan dan beberapa file penting hilang. Kami tidak tahu apa yang mereka cari” jawabnya kemudian. Aku terkejut. Memangnya sehebat apa sih pekerjaan ayah dan ibuku hinnga mengundang pencuri ke ruangannya? Pikirku.
“Lalu apa saja yang hilang” tanyaku.
“Beberapa cd data berisi penelitian Mars” Mrs Violet menggantung kalimatnya.
“Penelitian apa?” tanyaku semakin penasaran dengan arah pembicaraan ini. Zac yang sedari tadi memainkan globe titanium yang diletakkan di dekat rak buku besar sepertinya juga tertarik dengan pembicaraan kami.
“Mesin waktu” jawab Mrs.Violet singkat. Aku dan Zac bertatapan. Mesin waktu yang bisa membawa orang melalui pebedaan waktu seperti milik John Titor? Mesin waktu yang itu? Zac tampak kaget sekaligus tertarik mendengarnya.
“Mesin waktu seperti apa?” tanyanya kemudian tanpa berusaha menyembunyikan rasa ingin tahunya.
“Yah, kabarnya orang tua kalian menemukan catatan mengenai mesin waktu yang dibuat oleh sebuah suku primitif di sekitar pegunungan Karakoram” Mrs. Violet melanjutkan.
“Karakoram?” tanyaku lagi. Nama itu sepertinya tak asing bagiku. Namun aku lupa mendengarnya dimana dan kapan.
“Oke. Sekarang aku akan minta harold mengantarmu ke ruangang orang tuamu. Ambil saja apa sekiranya yang perlu kamu simpan. Sisanya biar kami menyimpannya, Blake” seperti tak ingin memperpanjang pembicaraan. Tak lama Harold, seorang pria tinggi besar namun memilki mata jenaka memasuki ruangan Mrs. Violet dan mengantarku juga Zac ke sebuah ruang yang tidak terlalu besar tempat ayah dan ibuku bekerja.
Ruangan ini tak jauh berbeda. Masih seperti waktu terakhir aku masuk ke dalamnya, sekitar 5 tahun lalu. Dengan deretan rak buku kayu berisi buku buku lama, peta peta dunia, kamus berbagai bahasa dan kumpulan file yang tersusun rapi berdasar abjad. Aku melihat fotoku dan kedua orabg tuaku diatas meja kerja besar di dekat jendela.
“kami sudah membereskan dan menyimpan beberapa barang setelah kejadian pencurian itu. Hanya sekadar berjaga siapa tahu pencuri itu kembali” harold menjelaskan padaku. Aku mengangguk. Wajar saja tidak ada jejak pencurian di ruangan itu.
“Kalau ada yang kamu butuhkan lagi, panggil saya saja” Harold lalu mengundurkan diri dan meninggalkanku dengan Zac di ruangan yang membuatku teringat lagi akan kenanganku bersama kedua orang tuaku. Zac yang menyadari perubahanku memegang pundaku. Berusaha menguatkanku.
“Nasib sedang nggak bersahabat denganku sepertinya” kataku mengingat kembali beberapa kejadian dalam hidupku ini. Zac hanya terdiam. “Pencurian?” tanyaku lagi. “Memangnya tidak cukup aku kehilangan kedua orang tuaku sekaligus” aku mulai emosi mengingat betapa teganya pencuri itu menambah daftar kemalanganku.
“Sudahlah, Blake. Mungkin ini semua ada maksudnya” Zac membantuku membereskan beberapa barang yang hendak aku bawa pulang. “Mesin waktu? Keren. Orang tuamu nggak pernah cerita tentang itu?” dengan sifat peNASarannya Zac menatapku. Aku menggeleng, dan tersirat kekecewaan di wajahnya.
“Ayah dan ibuku tidak pernah bercerita apa apa tentang pekerjaanya. Kalaupun aku sering ikut mereka bukan berarti aku tahu” jawabku. Ayah dan ibuku sepertinya tak ingin membuatku merasa terbebani dengan pekerjaan mereka.
“Wah, sayang sekali. Mesin waktu? Cool!” Zac menambahkan. Pria memang mempunyai kemampuan yang sedikit dalam memahami suasana hati seseorang. Zac contohnya. Aku hanya diam. Sibuk menumpuk beberapa foto dan barang barang pribadi kedua orang tuaku. Pikiranku melayang ke masa masa dimana aku senang sekali bermain dengan segala barang antik yang ditemukan kedua orang tuaku di ruangan itu. Masa masa yang tak mungkin dapat aku rasakan lagi.
Tiba tiba sebuah pemikiran konyol terlintas di benakku.
“Kamu yakin mesin waktu itu ada?” tanyaku pada Zac. Zac mengangguk yakin.
“Kalau tidak mana mungkin ada orang bodoh yang mau menyelidikinya” jawabnya tanpa memandangku.
“Halo, orang bodoh yang kamu maksud adalah orang tuaku Zac” aku sedikit  tersinggung dengan jawabannya. “Tapi, kalau kamu yakin itu ada. Apa mungkin masih berfungsi?” tanyaku lagi. Zac mengangkat bahu, lalu dia menatapku.
“Jangan bilang kamu mau mencari mesin itu?” tanyanya. Aku mengangguk. Apa salahnya kalau aku melanjutkan pekerjaan kedua orang tuaku itu. Kalau akhirnya aku menemukannya aku bisa mengunakannya untuk bertemu dengan kedua orang tuaku lagi. Iya kan?
“Blake, jangan berpikiran bodoh” Zac menatapku seolah aku gila.
“Kamu sendiri yang bilang mesin waktu itu keren. Sekarang kenapa kamu bilang seolah aku gila?” tanyaku mengingat ekspresi nya saat Mrs.Violet menceritakan tentang penemuan mesin waktu oleh kedua orang tuaku.
“Ya, memang keren. Tapi ...” Zac tidak melanjutkan kalimatnya den mengalihkan pandangnnya.
“Tapi kamu pikir aku gila dan nggak mungkin sanggup, begitu?” tanyaku kesal lalu menarik kerah bajunya. Entah apa yang membuatku menjadi seemosi itu. Mungkin aku terlalu susah menerima kenyataan kehilangan orang yang paling aku sayangi. Zac kaget melihat reaksiku dan meminta maaf. Kami melanjutkan menyortir barang barang yang ada di ruangan itu tanpa berkata apa apa.
___________________________________________________

CHAPTER 3

Aku dan Zac akhirnya keluar dari rhumb museum, aku mebawa kotak berisi barang barang milik kedua orangtuaku. aku melihat pria dengan fedora cokelat yang beberap hari lalu aku temui di squab park. Kali ini aku yakin dia melihat ke arahku juga. Aku merasakan hawa tidak enak saat melihatnya.
“Ada apa?” tanya Zac.
“Sepertinya ada yang mengikuti kita” jawabku sambil menunduk. Zac memperhatikan sekeliling kami. Aku langsung menyikut lengannya. “Aww!” jeritnya.
“Jangan bersikap seperti itu bodoh!” aku memakinya namun dengan suara pelan.
“Ada apa sih? Perasaanmu saja mungkin” Zac mengusap lengannya.
“Kamu lihat ada seorang pria dengan fedora cokelat di seberag sana?” kataku sedikit berbisik dan melirik ke seberang jalan. Zac melirik mengikutiku. Lalu mengangguk. “Orang itu juga ada waktu kita terakhir kali ke squab park, Zac” lanjutku.
“Lalu? Mungkin kebetulan saja kita bertemu dia lagi disini” komentar Zac. Dia ada benarnya juga, pikirku. Tapi perasaanku mengatakan dia memang bermaksud mengikuti kami. “Sudahlah, mungkin kamu terbawa perasaan karena cerita pencurian di rhumb beberapa hari lalu” Zac berusaha menenangkanku. Aku diam, percuma meyakinkan seseorang yang realistis seperti Zac. Kami lalu melanjutkan perjalanan kami.
Sesekali aku melirik ke sebalah kananku, dan menemukan pria itu juga berjalan searah dengan kami, tapi mengambil jalur yang berbeda. Sebenarnya aku ingin menarik Zac, namun dia sedang asyik dengan ceritanya berhasil menguasai gerakan skate yang baru. Tidak ingin menark perhatian, aku berusaha mendengarkan cerita Zac.
Sesampainya di rumah kecil tempat aku biasa menghabiskan akhir mingguku saat tidak di asrama, aku terkejut saat melihat keadaanya seperti kapal pecah. Sejak kecelakaan itu, aku memang belum sempat kembali ke apartemen yang menyimpan banyak kenanganku dengan orang tuaku. Aku lebih memilih tinggal di rumah paman chris dan berada di asrama.
Pintu depannya memang terkunci, namun jendela di kamar orang tuaku tidak lagi tertutup. Kacanya pecah dan semuanya tampak berantakan. Lemari tempat orang tuaku menyimpan barang barangnya terbuka dan semua isinya keluar tak karuan. Beberapa jejak berlumpur tampak mengering di atas karpet abu abu kamar itu. Ruang kerja ayah dan ibu yang terletak di depan kamar tidur mereka juga tak kalah berantakan. Kertas kertas berserakan, file holder yang biasanya tersusun rapi kini tampak tak beraturan. Beberapa barang yang merupakan kenangan dari berbagai negara pecah berserakan. Komputer yang ada di atas meja kerja pun masih menyala. Aku dan Zac saling berpandangan.
“Telepon polisi” katanya padaku. Aku mengangguk. Namun saat aku baru saja ingin keluar dari ruang kerja itu, pria bertopi fedora yng sedari tadi mengikuti kami muncul dari ambang pintu. Aku berteriak spontan, mengagetkan Zac yang sedang memunguti beberapa barang yang tergeletak di lantai.
“Siapa kamu?” tanyaku penuh curiga. Tanganku meraih tempat lilin yang ada di dekatku dan kuacungkan padanya. Pria itu tidak bergerak. Diangkatnya topi fedora yang tadi menutupi sebagian wajahnya. Usianya sekitar 30 tahun, dengan rambut hitam yang lebat yang dipotong pendek. Alis tebal dengan mata tajam. Rahang tegas dengan bekas cukuran yang terlihat jelas.
“Tenang. Saya tidak bermaksud jahat” jawabnya den mendekat ke arahku. Perlahan aku mundur. Zac tampak siaga.
“Kalau memang bermaksud baik kenapa kamu mengikuti kami diam diam seperti ini?” tanyaku masih dengan nada curiga.
“Saya Vin Keaton, anggota NAS” dia mengulurkan tangannya. Aku masih belum melepaskan tempat lilin perunggu dari tanganku.
“NAS?” tanyaku merasa aneh dengan nama itu. Pria itu menarik kembali uluran tangannya.
“National Archieve Secret” lanjutnya. Aku masih memandangnya dengan penuh curiga. “Bisa kau turunkan itu?” katanya sambil menunjuk ke tempat lilin yang sedari tadi aku pegang. Aku meminta persetujuan Zac, Zac mengangguk. Aku menurunkan tempat lilin tembaga itu dari tanganku.
“Ada apa anda kemari” tanya Zac yang sudah berada di sampingku.
“Saya minta kalian mau secepatnya meninggalkan tempat ini” katanya dengan suara berat.
“Maksud anda?” aku tidak mengerti dengan kata katanya. Mengapa aku harus meninggalkan rumahku sendiri.
“Lihat apa yang terjadi di sini?” tanyanya. Matanya menyisir tiap sudut ruang kerja ayah ibuku. “Ada seseorang yang ingin mengambil sesuatu dari orang tuamu” lanjutnya lagi.
“Anda kenal orang tuaku?” aku sedikit mengendurkan pertahanan dan rasa curigaku. Pria itu mengangguk. Merasa aman dengan pria itu, aku beranikan diri mendekatinya.
“Blake Mars” kataku mengulurkan tangan. Pria itu menyambut uluran tanganku.
“Saya tahu” katanya singkat. Aku minta Zac memperkenalkan diri juga. Walau sedikit keberatan, Zac menurutiku juga.
Tiba tiba aku mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumahku. Sebelum aku sempat melihat siapa yang mengunjungiku,Vin menarik tanganku dan mengajakku keluar lewat pintu belakang. Zac yang tak tahu apa apa mengikuti aku yang ditarik oleh Vin.
“Ada apa ini?” tanyaku benar benar tak mengerti mengapa Vin tiba tiba bersikap seperti itu. Vin memberi tanda agar aku tidak menimbulkan suara. Perlahan kami keluar dari pintu belakang dan melompati pagar diam diam. Rasanya aneh kabur dari rumahku sendiri. Tapi aku tak banyak bertanya, sebagian diriku menyuruhku untuk menuruti kata kata pria ini. Kami menyebrang jalan yang sedang cukup ramai. Sebelum menjauh dari rumah mungilku itu, aku sempat melihat sebuah Lamborghini Gallardo Nera hitam terparkir di depan rumahku. Pemandangan yang sangat kontras, sebuah rumah sederhana kecil dengan sebuah mobil mewah mahal di depannya.
Vin menyuruhku untuk berlari sejauh meungkin dari tempat itu. Aku menurutinya. Zac seolah tak mau ketinggalan, mengikutiku dari belakang. Aku pegang kedua tali Nike Core cokelatku untuk memperingan langkahku. Zac, yang sudah menyetaraiku terlihat bingung.
“Kita melarikan diri dari siapa?” tanyanya. Pertanyaan yang juga sama menggantung di pikiranku. Aku mengangkat bahuku. “Kamu yakin dia orang baik” tanyanya lagi sambil melihat ke arah Vin yang berlari kecil di depan kami. Aku mengangguk.
“Ikuti saja, selama kita masih ada di kota ini, aku rasa aman” jawabku terdengar meyakinkan. Walaupun sebenarnya aku tak yakin dengan jawabanku, tapi entah pengapa perasaanku meyakinkan bahwa mengikuti pria asing ini adalah keputusan yang tepat. Vin yang berada di depan kami berbalik dan menyuruh kami cepat menyusulnya. Zac dan skateboard backpack Dakine abu abu hijaunya mendahuluiku. Hari itu Zac sengaja tidak membawa papan skate nya, karena aku khawatir kami akan membawa banyak barang dari Rhumb.
Setelah tiga blok berlari kami akhirnya berhenti dan betapa kagetnya aku saat aku melihat dua Lamborghini Murcielago LP640 berwarna hitam dan silver sudah menunggu kami. Vin menyuruhku masuk ke dalam lamborghini murcielago LP640 berwarna hitam sedangkan Zac masuk ke dalam Lamborghini silver yang entah dikendarai oleh siapa. Setelah aku dan Vin berada di dalam mobil, Vin memacu mobil mewah itu dengan lincah tanpa takut mobil mahal itu tergores. Mobil kami mengambil arah yang berbeda dengan mobil satunya. Oke, aku memang selalu mendambakan bisa menaiki mobil mewah seperti Lamborghini, Ferrari dan sejenisnya, tapi tidak dengan keadaan seperti ini tentu saja.
“Kenapa kita berpisah dengan Zac?” tanyaku saat aku melihat mobil yang dinaiki Zac tidak terlihat lagi. Sedikit cemas.
“Tenang saja. Nanti kita bertemu lagi kok” jawabnya santai. “Kita berpencar agar tidak mudah terlacak” lanjutnya. Aku masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
“Kau yakin dua Lamborghini mewah berkeliaran di jalan tidak menarik perhatian orang?” tanyaku sinis. Kalau ingin menghindari lacakan entah apa atau siapa, setidaknya mereka bisa memilih sebiah mobil biasa kan? Bukannya mobil mewah yang berkilauan di sinari cahaya matahari. Vin hanya tersenyum dan tetap memacu Lamborghini Murcielago LP640 nya dengan kecepatan dan kelincahan yang memukau. Menyalip beberapa kendaraan dan menerobos beberapa lampu merah, yang aku yakin dapat terlihat dengan jelas di video rekaman lalu lintas. Bagian mananya yang ingin menghilangkan jejak?
___________________________________________________

Chapter 4

Akhirnya Vin mengurangi kecepatan Lamborgihi nya saat kami sudah berada beberapa kilometer dari pusat kota. Hanya padang rumput dan beberapa mobil yang kini aku lihat. Vin masih belum menjelaskan ada apa atau mau kemana tujuan kami. Dia masih tetap dengan sikap dinginnya. Vin membelokkan mobilnya memasuki sebuah area berpohon tinggi dan rimbun. Pemandangan itu membuatku semakin cemas dan tidak lagi berpikiran positif tentang Vin.
“Kita dimana?” tanyaku berusaha terdengar tenang walaupun sebenarnya aku sangat ketakutan. Vin masih diam. Kutarik lengan jubahnya. “Hei” kataku sedikit berteriak. Vin lalu menoleh sedikit kesal.
“Kamu ternyata tidak sesabar ibumu ya?” katanya sambil memandangku. “ Sebentar lagi kita sampai. Jadi bersabarlah sebentar” jawabnya kesal. Harusnya aku kan yang kesal. Tapi aku menurut juga untuk tetap diam dan bersabar.
Akhirnya aku mlihat sebuah bangunan mirip observatorium di antara rimbunan pepohonan yang kami lewati. Tak lama kami memasuki gerbang yang dijaga oleh dua orang petugas berpakaina militer yang memberi salam hormat apada Vin. Rupanya dia seorang atasan, batinku sambil melirik Vin. Mobil kami terus melaju dan meluncur menuju basement bercahaya redup. Saat mobil berhenti dan Vin memintaku keluar dari mobil, betapa terkejutnya aku melihat deretan mobil mewah dan tampak canggih berderet di basement itu. Aku juga melihat Lamborghini silver yang dinaiki Zac tadi. Atau itu hanya mobil serupa karena banyaknya mobil mewah yang berserakan disana. Aku tak heran. Aku lalu mengikuti Vin memasuki sebuah lift yang ternyata memerlukan finger prints detector sebelum bisa terbuka. Ternyata gedung ini begitu dilindungi dengan kemanan tingkat tinggi. Aku semakin penasaran dengan apa yang ada di dalam nya atau apa yang diurus olehnya.
Saat aku keluar dari lift, beberapa pria dengan setelan jas mondar mandir di depanku. Tampak sibuk dengan berbagai urusan dan barang bawaan mereka, tapi mereka masih sempat memberi hormat pada Vin. Aku masih memandangnya, namun seperti pura pura tak menyadarinya, pandangan Vin tetap mengarah lurus ke depan.
Vin berhenti dan mengetuk sebuah pintu yang di depannya tergantung papan nama, Daniel Cruz. Setelah mendapat jawaban, Vin membuka pintu itu perlahan. Aku melihat Zac yang sedang menyantap double cheese Burger King di sebuah sofa di sebelahnya duduk seorang wanita berambut cokelat panjang yang tampak anggun namun kuat pada saat bersamaan, tersenyum ke arahku.
“Selamat datang, Blake” sebuah suara berat menyapaku. Aku melihat seorang pria berusia 50 tahunan dengan potongan rambut cepak, muka klimis namun badan yang sangat kekar di balik kemeja putih yang dikenakannya. “Mau minum apa?” tanyanya lagi terdengar ramah.
“Pepsi” jawabku singkat. Karena hanya itu yang ada di pikiranku saat itu. Pria itu mengangguk dan menyuruhku duduk. Aku memilih duduk di sebelah Zac, satu satunya orang yang aku kenal di ruangan itu. Zac menawariku Burger King nya yang tinggal setengah itu padaku. Aku menolak dan memberinya pandangan, bisa-bisanya-kamu-makan-saat-seperti-ini ku padanya.
“Oke, perkenalkan. Saya Daniel cruz” kata pria kekar tadi. Yah, sudah kuduga sih. karena aura pemimpinnya sangat terasa dari terpancar tubuhnya. “Ini Caroline White” katanya sambil menunjuk ke arah wanita yang baru aku perhatikan dengan seksama adalah keturunan hispanik. “dan ini Vin Keaton” katanya ke arah Vin yang diiringi senyum lebarnya.
“Bisa tolong jelaskan ada apa ini? Kenapa aku harus melarikan diri dari rumahku sendiri? Terlebih lagi aku tidak tahu dari apa aku melarikan diri” tanyaku dengan nada kesal mengingat Vin berkali kali mengabaikan pertanyaanku di mobil tadi.
“Tenang, Blake. Nanti pasti kamu tahu. Sekarang yang terpenting kamu harus menangkan pikiranmu dulu” Caroline yang ternyata memilki suara sangat seksi memberikan sekaleng pepsi padaku. Aku baru menyadari aku sangat kehausan. Wajarlah sepulang sekolah tadi aku belum sempat meminum apa apa, saat di Rhumb pun aku terlalu sedih membereskan barang barang milik orangtuaku, belum lagi ditambah harus berlari sekitar 3 blok jauhnya. Dan Pepsi merupakan pilihan tepat saat ini.
“Burgernya enak lho” kata Zac setelh aku menenggak setengah kaleng Pepsiku dan dia beres menghabiskan Burger King nya. Walaupun perutku terasa lapar, tapi kelaparan akan apa yang terjadi lebih membuatku ingin segera mengetahui apa yang terjadi hari ini.
“Oke, sekarang aku sudah tenang. Jadi bisa tolong ceritakan ada apa ini? Jujur saja ini hari teraneh yang pernah aku alami” kataku setelah mengingat kembali apa yang aku alami hari ini.
Daniel, Caroline dan Vin saling berpandangan.
“Sebenarnya apa yang terjadi sangalah rahasia” akhirnya Daniel angkat bicara. Wajahnya tampak serius. “Tapi aku pikir kamu berhak tahu apa yang terjadi” Daniel berdiri menghampiri sebuah lemari besar di sudut ruangannya. Dan kembali membawa dua map merah lalu meletakannya di atas meja.
“Orang tuamu, Jonathan dan Angelique, adalah agen handal di NAS. Mereka bekerja untukku dalam waktu yang cukup lama. Mencari dan menyelidiki berbagai hal yang berkaitan dengan penemuan dan penjualan ilegal penemuan dunia di pasar gelap. Semuanya berjalan lancar hingga kehilangan mereka bebepa minggu lalu” aku hanya terdiam mendengar cerita Daniel. Ada apa ini? Agen? Penjualan ilegal? Pasar gelap? Kehilangan? Apakah mereka sebegitu tak bisanya meneima kematian orang tuanya?
“Tunggu sebentar. Anda yakin anda tidak salah orang. Karena setahuku orang tuaku bekerja di Rhumb Museum dan ralat, mereka bukan hilang, mereka ...” berat untukku melanjutkan perkataanku “meninggal” lanjutku getir. Vin, yang duduk di sebelahku memegang pundakku. Berusaha menguatkanku.
“Sebenarnya Jonathan dan Angelique dikirim oleh NAS untuk bekerja di Rhumb untuk menutupi identitas mereka. Selain akan lebih mudah bagi mereka untuk dapat mengetahui apa yang terjadi jika mereka bekerja di sana” Vin menjelaskan. Dia memperlihatkan foto yang di dalamnya terdapat foto dia dengan kedua orang tuaku dengan latar sebuah kuil kuno entah dimana. Semua mulai jelas di kepalaku dan tampak wajar.
“Dan mereka hilang dua  minggu lalu di hutan Meksiko” ucapan Caroline membuatku tersentak. Selama ini aku sudah merelakan kepergian kedua orang tuaku, tapi ada apa dengan kegilaan ini?
“Kalian tidak bermaksud menghiburnya saja kan?” tanya Zac seolah menyadari kekagetanku. Caroline, Vin dan Daniel serempak menggeleng. Ototku menegang.
“Jonathan dan Angelique hilang saat ekspedisi di hutan Meksiko” Daniel menegaskan.
“Tapi kabar itu?” tanyaku bingung. Dua minggu lalu Rhumb Museum mengabari kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuaku. Kecelakaan itu begitu parahnya hingga membuat jenazah kedua orang tuaku tidak dapa dikenali lagi. Namun bukan berarti berita itu bohong kan? Mrs.Violet tidak akan sekejam itu untuk menggodaku dengan kebohongan seperti itu.
“Mayat yang ditrmukan dari helikopter itu bukanlah Jonathan dan Angelique, Blake. Itu mayat penduduk daerah itu” Caroline menjelaskan padaku. “Memang kami yang meminta pihak Rhumb untuk menyembuyikan berita itu. Sekadar berjaga jaga” Caroline melanjutkan. Tiba tiba aku merasakan amarahku mengalir ke kepalaku. Darahku memanas, emosiku memuncak. Teganya mereka menyembunyikan kenyataan ini dariku. Aku lalu berdiri hendak keluar dari ruangan yang tiba tiba membuatku sesak. Kutarik Zac untuk mengikutiku, tapi tangan Vin menahanku.
“Apa lagi?” bentakku padanya. Rasa takutku padanya hilang begitu saja. Sekarang dia tak lebih dari seorang pembohong.
“Duduk dulu, ceritanya belum selesai, Blake” suara mengintimidasi Vin. Aku lalu duduk kembali. “Jonathan dan Angelique sepertinya menghilang saat mencari sebuah benda yang sangat penting” Vin menghentikan penjelasannya. Mengeluarkan sebuah cerutu montecristo buatan dominika. Membauinya sebelum menyulut ujungnya.
“Kedua orang tuamu menemukan sebuah alat yang diduga merupakan sebuah mesin waktu, Blake. Dan bberapa pihak yang mengetahui itu berusaha mencarinya dengan berbagai cara” Daniel menyerahkan beberapa kertas yang sepertinya merupakan sebuah peta dan foto sebuah mesin bulat berwarna tembaga dengan detail yang sangat rumit jika dilihat dari foto. Warna benda itu sangat tua, penuh mistis namun terkesan sangat kuat. Zac yang duduk disampingku ikit melihat foto di tanganku lalu mendecak kagum.
“Ini mesin waktu yang kalian maksud?” tanyaku dengan nada sedikit sinis. Entah mengapa aku merasa miris mengetahui kedua orang tuaku mengorbankan nyawa mereka untuk seonggok sampah seperti ini.
“Kami juga belum tahu pasti, tapi kemungkinan begitu. Detilnya begitu rumit, selain itu bahan pembuatanya juga belum parnah ditemukan di belahan dunia bagian manapun. Tapi kekuatan magnet di sekitarnya sangat kuat” Vin menjelaskan secara singkat diiringi kepulan asap.
“Maksudnya kalian juga belum yakin? Dan begitu saja mengutus kedua orang tuaku menyelidikinya? Begitu?” amarahku kembali bergolak.
“Blake, kami sudah memilih anggota lain untuk ekspedisi ini tapi Jonathan dan Angelique memaksa untuk mengani nya sendiri”
“Sudahlah Blake, setidaknya kamu tahu orang tuamu belum meninggal” Zac dan Caroline berusaha menenangkanku.
“Aku minta maaf karena tidak memberi tahumu lebih dulu. Tadinya kami malah tak ingin memberi tahumu. Tapi saat mendengar ruang kerja mars di rhumb di acak cak pencuri kami jadi khawatir masih ada pihak yang menginginkan benda itu. Dan kami khawatir akan keselamatanmu. Maka dari itu aku meminta Vin untuk mengawasimu” Daniel tampak sangat menyesal. Sebagian diriku memang merasa tenang saat mengetahui berita kemungkinan orangtuaku masih hidup, namun sebagian lagi benar benar merasa dipermainkan dan dibohongi.
“Dan nyatanya memang nyawamu terancam” Vin menambahkan. Entah mengapa kata kata yang keluar dari mulunya selalu membuatku kesal.
“Jadi, ada yang mau memberitahu kami, kami kabur dari apa?” tanya Zac dengan wajah polosnya.
“Oracle Inc.” Jawab danile singkat.
“Perusahaan telekomunkasi berskala internasional itu?” tanyaku heran setengah tak percaya. Mengapa sebuah perusahaan sehabat itu masih mau mengurusi sebuah isapan jempol. Sebuah cerita tentang mesin waktu.
“Ya, Oracle Inc. Yang itu” Vin menambahkan untuk meyakinkanku.
“Tapi untuk apa?” tanya Zac yang sama herannya denganku. Daniel mengangkat bahunya.
“Kami juga belum tahu pasti, tapi satahuku Max adalah orang yang memiliki ambisi tinggi. Dia bisa memanfaatkan benda itu untuk apa saja” Daniel menambahkan. Aku tak tahu siapa Max yang dia maksud, tapi pasti berhubungan dengan Oracle Inc. “sekarang sebaiknya kalian istirahat dulu di sini. Mungkin untuk beberapa waktu kalian terpaksa harus menetap disini. Sekadar untuk kemanan. Aku berhutang jani untuk menjagamu pada Jonathan” Daniel tersenyum penuh kasih ke arahku seolah memandang anaknya sendiri. Aku mengangguk setuju, lagipula aku memang sepertinya harus mendapatkan suasana baru selain dinding kamar asramaku. Aku lalu memandang Zac.
“Lalu dia?” tanyaku pada Daniel sambil menunjuk Zac.
“Terserah dia, mau tetap disini atau pulang. Kalaupun dia memilih pulang kami pastikan dia aman di bawah pengawasan kami” jawab Daniel tegas. Aku memandang Zac, berharapa dia membaca isi hatiku untuk menyuruhnya tinggal menemaniku.
“Oke. Aku ikut” katanya kemudian. Aku memandang penuh rasa terima kasih padanya.
“Baiklah. Sekarang kami tinggal mengatur alasan izinnya kalian” lanjut Daniel sambil memberi tanda kutip dengan jarinya saat mengucapkan kata izin. Caroline sepertinya paham maksud tanda itu. Tak lama dia meninggalkan kami berempat. Sepertinya untuk mengurus ‘surat izin’ aku dan Zac.
“Jadi, bisakah kalian beritahu kami lebih lengkap mengenai apa dan bagaimana benda aneh yang sepertinya mesin waktu ini?” tanyaku penuh rasa ingin tahu. Vin yang tampak tidak ingin memberi tahuku maupun Zac menatap penuh keberatan pada Daniel. Kalau tatapan bisa bersuara, aku yakin mereka sedang mebicarakan layak tidaknya aku mengetahui rahasia besar itu. Tapi pada akhirnya Daniel menatapku diiringi desahan pasrah Vin.
“Oke Blake, Zac” Daniel kemudian membuka suara. “Semuanya berawal dari ekspedisi Mars di China beberapa tahun lalu.
___________________________________________________

Chapter 5

Empat orang pria besar kekar duduk di sebuah sofa hitam besar. Kepala klimis mereka tertunduk. Di hadapan mereka duduk seorang pria berusia 40 tahunan, berkulit putih pucat, mata dingin tajamnya dan bibir tipisnya. Tampak segaris luka kecil yang tersisa di kening sebelah kirinya. Rambutnya yang ikal diatur sedemikan mungkin dengan gel. Badannya yang tidak terlalu tinggi tampak tanguh dibalik balutan jas Armani hitamnya. Ditelitinya satu persatu keempat pria tangguh di depannya tanpa rasa takut, justru mengintimidasi.
“Jadi, kalian kehilangan anak itu?” tanyanya dengan nada dingin, tak ada suara, hanya anggukan sebagai jawaban. Keempat pri itu terlalu takut menjawab. “Kalian berempat kehilangan seorang anak perempuan?” tanyanya lagi dengan nada menekan. Tak ada jawaban.
“Maaf, tuan. Sepertinya ada yang menyadari kedatangan kami dan memberi tahu anak itu” akhirnya seorang menjawab pertanyaan itu dengan nada gentar.
“Seseorang?” tanya Max penasaran. Diambilnya sloki wine yang ada dihadapannya untuk menenangkan emosinya.
“Ya, sepertinya ada seseorang yang juga mengikuti anak mars itu dan memberitahunya tentang kehadiran kita” seorang lagi menambahkan. Max menenggak wine favoritnya lalu meletakkannya.
“Kalian tahu siapa itu?” tanya Max lagi. Keempat orang itu diam, tampak berpikir.
“Sepertinya Vin. Vin keaton”
“Vin keaton” kata Max lirih. “Dia lagi. Sepertinya NAS tahu kalau kita menginginkan alat itu. Dan kalian sempat bertemu Vin?” Max memandang tajam ke keempat suruhannya itu. Mereka serempak menggeleng. “Keluar!  Cari tahu tentanng Vin dan NAS. Dan jangan kembali sampai kalian dapat hasilnya” Max berteriak kesal mengusir keempat pesuruhnya itu.
Seorang wanita berwajah oriental dengan balutan pakaian serba hitam ketat menghampirinya.
“Tenanglah, Max. Segalanya pasti akan beres” suaranya yang merdu mengahnyutkan harusnya bisa menenangkan emosi Max. Tapi rupanya kekesalan Max sudah terlalu memuncak dan tak dapat diredakan.
“Kamu dengar yang mereka katakan tadi, kan? Vin lagi. Dia selalu saja mengalangi kita” Max memukul meja kerjanya membuat beberapa barang di atasnya bergeser terkena guncangan.
“Tenang saja, Vin pasti hanya berniat menyelamatkan anak mars itu. Dia tidak tahu apa apa, Max” wanita oriental itu mengusap punggung Max. “kita selalu lebih pintar dari mereka kan?” tambahnya. Kali ini kata katanya berhasil membuat emosi Max mereda.
“Pastikan itu” jawab Max dengan diiringi senyum liciknya.

“Jadi, Max Evans membiayai semua usahanya dari penjualan barang antik ilegal?” tanyaku setelah mendengar cerita Daniel mengenai latar belakang suksesnya Oracle Inc. Yang sudah bisnisnya sudah mendunia itu. Aku benar benar tidak pernah menyangka ada sebuah kriminalitas besar dibalik suksesnya bisnis itu. Dan aku lebih tidak menyangka lagi saat ini aku harus berhubungan dengan otak dibalik kriminalitas itu.
“Blake, sepertinya kita akan mendapat pengalaman yang seru” Zac berbisik padaku. Memang pikirannya selalu dibayangi oleh adegan film Indiana Jones favoritnya. Aku yakin dia pasti tak akan rela membiarkan aku sendirian melewatinya.
“Yeah” aku membalas dengan setengah hati. Karena apa bagusnya sih melibatkan diri dalam sebuah organisasi rahasia yang berhubungan dengan tindak kriminalitas berskala besar dan mengurusi hal yang belum jelas kebenarannya? Sama saja dengan buang buang waktu saja, pikirku.
“Tapi kami juga belum menemukan dimana letak pasti benda itu, karena Mars hilang sebelum menghubungi kami” Daniel melanjutkan cerita mengenai penemuan benda yang diduga mesin waktu itu.
“Memangnya ayah dan ibu tidak memberikan petunjuk satupun pada kalian?” tanyaku kemudian. Berusaha menyingkirkan sarkastikku akan sikap tidak peduli Daniel akan keselamatan ibuku dan lebih mementingkan benda tidak jelas itu.
“Jon dan Angel,itu panggilanku untuk ayah dan ibumu, adalah tipe orang orang yang tidak setengah setengah. Bagi mereka pantang memberitahukan sesuatu yang belum jelas kepastiannya tanpa mereka selidiki terlebih dahulu. Jadilah mereka tidak meninggalkan apapun. Hanya ini saja data yang pernah mereka berikan. Itupun hanya sebagai referensi persetujuan ekspedisi mereka” Daniel menjelaskan dengan wajah sedikit menyesal. Aku memang sangat mengetahui sifat kedua orang tuaku itu, mereka selalu melakukan segalanya dengan serius hingga selesai.
“Memangnya kapan Jon dan Angel tahu tentang benda ini?” tanya Zac penasaran. Entah sejak kapan dia jadi ikut memanggil orang tuaku seperti itu.
“Sebenarnya sudah cukup lama dia dan Angel menyelidiki ini. Kalau tidak salah semenjak ekspedisinya di China beberapa tahun lalu. saat itu dia tidak sengaja menemukan sebuah perkamen tua yang berisi catatan mengenai penemuan itu. Dan entah bagaimana caranya, Jon dan Angel berhasil menerjemahkan isi perkamen itu” Daniel memandang Vin meminta persetujuan atas ceritanya.
“China?” tanyaku. “Maksudmu di china tujuh tahun lalu?” lanjutku sepertinya mulai bisa masuk ke dalam pembahasan ini. Daniel sepertinya berpikir dan mengira ngira kapan tepatnya beberapa tahun lalu itu. Lalu mengangguk. Aku semakin penasaran dengan kelanjutan cerita Daniel mengenai perkamen yang menjadi asal muasal ekspedisi mesin waktu orang tuaku.
“Blake, kamu tahu sesuatu?” Zac kembali berbisik padaku. Aku menggelang.
“Boleh saya lihat perkamen itu?” tanyaku tiba tiba. Perasaanku mengatakan aku bisa mendapatkan sesuatu apabila melihatnya. Vin memandangku seolah tak percaya. “Hanya sekedar memastikan” lanjutku menanggapi pandangnya. Daniel berbalik dan mengeluarkan sebuah peti kecil dari bawah meja kerjanya. Sebuah peti kayu berukuran 30 x 20 cm berwarna cokelat dengan ukiran di atas dan tiap sisinya. Daniel meletakkan peti itu perlahan diatas meja. Aku dan Zac menatap lekat peti itu. Daniel mengeluarkan sebuah kunci kecil tembaga yang dia kalungkan di balik kemejanya. Baik peti maupun kunci tembaga yang sekarang bersisian d atas meja terlihat tua, namun terkesan kuat.
“Kamu boleh membukanya” Daniel menyerahkan kunci itu kepadaku. Sedikit ragu aku menatap kunci tembaga itu, lalu aku ambil juga kunci itu. Aku masukan anak kunci itu ke dalam lubang di depan peti kayu di atas meja. Sedikit sulit, mungkin karena lama tak dibuka. Akhirnya setelah terdengar suara klik, aku beranikan diri mengangkat bagian atas peti tua itu. Mungkin hanya perasaan dan sugestiku saja, tapi aku mencium aroma tua yang tidak pernah aku kenal. Tiba tiba saja kepalaku menjadi berat dan mataku berkunang. Perut kosong yang diisi Pepsi mungkin bukanlah pilhan yang tepat, pikirku. Menarik kepalaku dan menyenderkannya di sofa.
Semua yang ada di sekitarku berputar sangat cepat. Aku pejamkan mataku untuk mengurangi efek pusing yang diakibatkan putaran itu. Aku gelengkan kepalaku berharap bisa menghilangkan putaran itu, namun sia sia. Putaran itu terus ermain di kepalaku seolah menusuk masuk ke dalam pikiranku. Terus memutar dan memasuki alam bawah sadarku.
___________________________________________________

Chapter 6

Udara dingin seperti menembus kulit dan menusuk tulang tulangku, terasa ngilu. Aku berusaha membuka kelopak mataku yang terasa berat. Entah berapa lama aku terpejam. Yang jelas di sekitarku sudah gelap, hening dan dingin. Aku paksakan kedua mataku untuk membuka. Aku gerakkan badanku yang terasa kaku, mungkin karena terlalu lama diam di udara sedingin ini. Saat kedua mataku sudah terbuka sepenuhnya betapa kagetnya aku mendapati pemandangan yang asing di sekitarku. Aku terbaring di sebuah padang rumput dengan ilalang yang hampir setinggi dada. Ilalang itu bergoyang tertiup angin yang berhembus cukup kencang.pastilah angin itu yang menusuk tulang tulangku dan membuatnya ngilu.
“Zac” panggilku. Hanya namanya yang terlintas di benakku. Yang aku ingat, aku berada di sebuah ruangan bersama Zac, Daniel dan Vin sesaat sebelum mataku terpejam. Dan sekarang saat mataku terbuka, aku berada di sebuah padang asing.
“Sial! Apa mereka membuangku begitu saja setelah tahu aku tidak tahu apa apa tetntang mesin waktu itu?” kataku kesal sambil bangkit dan mengibaskan kotoran yang menempel di jeans dan jaketku. Badanku sedikit limbung saat berusaha bangkit, mungkin efek pusingnya masih sedikit tersisa. Sejauh mata memandang aku hanya melihat ilalang yang bergoyang tertiup angin. Tak ada tanda kehidupan di sekitarku. Aku rapatkan jaketku untuk mengurangi dinginnya hembusan angin, yang sepertinya sia sia, karena dinginnya masih terasa.
Aku langkahkan kakiku melewati ilalang ilalang itu. Walaupun tak tahu akan kemana, setidaknya dengan bergerak aku tidak akan terlalu merasa kedinginan. Aku sibakkan ilalang yang mengahalangi jalanku. Sangat hening dan sepi. Bahkan aku tak merasakan kehadiran seekor hewan pun di sekitarku.
Di tengah deru angin itu aku merasakan dadaku menghangat. Saat aku pegang bagian luar jaketku ternyata bukan perasaanku saja. Bagian dadaku memang menghangat. Ternyata rasa hangat itu berasal dari bandul kalung peninggalan kedua orang tuaku. Sebuah kalung dengan tali beludru hitam berhiaskan bandul segitiga yang terbuat dari bahan seperi batu namun lebih halus. Diatas bandul itu terdapat sebuah gambar atau simbol entah apa. Dan dari benda itulah kehangatan yang menjalari tubuhku berasal. Aku mendekap erat tubuhku agar bagian tubuh lainku dapat merasakan kehangatan itu sambil terus berjalan.
Aku melihat Nike Imara Kylo Cee hitamku, sudah sekitar 40 menit aku berjalan menyusuri padang itu. Aku melihat sedikit cahaya beberapa meter dari tempatku berdiri. Sepertinya sebuah pemukiman. Aku mempercepat langkahku agar cepat mencapai tempat itu. Tiba tiba aku perlambat langkahku saat aku lihat sebuah bayangan berlari dan bersembunyi dibalik sebuah pohon oak. Bayangan itu tampak seperti sebuah siluet tubuh manusia. Aku mengendap dan merendahkan tubuhku. Aku atur nafasku sedemikian mungkin agar tidak menimbukan keributan, walaupun aku yakin desiran angin lebih kencang dari nafasku. Aku mengambil posisi bersembunyi namun tetap memantau gerak gerik bayangan itu. Tubuhnya tak lebih tinggi dariku, namun sedikit lebih besar. Aku pincingkan mataku dan memfokuskan pandanganku. Kegelapan malam membuatku sulit melihat lebih jelas sosok itu. Pada akhirnya bayangan itu tetap menjadi siluet gelap yang membelakangiku.
“Sayap?” aku terpukau melihat dua buah sayap yang masing masing panjangnya sekitar satu meter terbentang lebar dari punggungnya. Aku kerjapkan mataku berharap itu hanya halusinasiku saja. Tapi bayangan itu sudah tak ada di balik pohon oak di hadapanku lagi.
Tiba tiba aku mendengar suara kepakan sayap dari langit di atasku. Saat aku tengadahkan kepalaku untuk memastikan sumber suara itu aku hanya bisa terdiam melihat seorang pria bersayap hitam meluncur tepat ke arahku. Mata kami bertatapan. Matanya tidak seperti manusia lainnya, bola matanya berwarna putih dengan spiral cokelat yang seperti terus berputar saat menatapku.
“selamat datang, Blake” sebuah suara halus yang sangat lembut namun terkesan basah terdengar di telingaku. Aku yakin pria bersayap itu yang mengucapkannya. Tapi dia berada beberapa meter di atasku dan bibirnya tidak bergerak. Hanya spiral di matanya saja yang seolah menghipnotisku. Menyedotku dan seolah mengangkat tubuhku.
Lagi lagi tubuhku melemas dan mataku berat. Aku merasakan tubuhku terangkat beberapa meter dari tanah. Di sisa kesadaranku aku mencium aroma clary sage yang menenangkan pikiranku.
“Ayah dan ibumu telah menunggumu” samar aku mendengar suara itu lagi.

“Blake,,Blake!!” aku rasakan badanku terguncang. Suara Zac terdengar memanggi manggil namaku. “Blake!” Zac memanggilku lagi dengan nada cemas. Aku membuka mataku dan kutemukan diriku berada di sebuah ruang kerja tertidur di atas sebuah sofa. Bukannya di padang rumput dikelilingi ilalang.
“Kamu nggak apa?” Zac menatapku dengan pandangan cemas. Aku mengangguk. Kurasakan badanku basah oleh keringat. Reflek aku sentuh bagian dada dimana tergantung kalung peninggalan kedua orang tuaku. Tidak hangat. Berarti tadi aku hanya bermimpi. Tapi semuanya begitu nyata. Desiran angin, sentuhan ilalang yang bergoyang, keheningan yang mencekam, segalanya begitu nyata. Apa mungkin mimpi dapat senyata itu?
“Aku kenapa?” tanyaku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa aku memang hanya bermimpi.
“Tadi kamu tiba tiba pingsan setelh membuka peti itu” danel mendekatiku dan memberiku segelas air putih. “Kamu sangat pucat. Yakin kamu baik baik saja?” kali ini Daniel yang menatapku cemas. Diperiksanya denyut nadiku untuk memastikan aku tak apa apa.
“Iya. Aku baik baik saja” jawabku setelah menghabiskan segelas air putih yang diberikan Daniel.
“Sebaiknya kamu makan sesuatu dulu, Blake” Vin yang sedari tadi hanya berdiri diam kini ikut berbicara. “Mungkin kamu terlalu letih. Buka saja jaketmu supaya kamu lebih segar” katanya seperti menyadari keringat yang membasahiku kaosku. Aku menurut dan melepas jaketku. Betapa kagetnya aku saat aku mencium aroma clary age yang sangat kuat dari jaketku.
“Ada apa?” tanya Zac. Aku hanya menggeleng.
“Berapa lama aku pingsan?” tanyaku padanya.
“Sekitar 10 menit” jawab Zac yakin. 10 menit? Aroma clary sage? Perasaan itu? Aku terdiam, tidak menemukan jawaban atas pertanyaanku. “Blake, kamu yakin nggak apa?” tanya Zac lagi. Aku mengangguk dan tersenyum.
“Vin,dimana aku bisa mendapatkan burger king dan sejenisnya?” tanyaku kemudian.
“Aku bisa meminta seseorang mengantarkannya” sela Daniel sambil membereska file dan peti kayu kecil untuk dikembalikan ke tempatnya semula.
“Tidak apa, biar aku saja yang kesana. Sepertinya aku akan cukup lama berada di sini. Jadi aku harus terbiasa” jawabku berusaha terdengar sebiasa mungkin. Vin menatapku curiga. Tapi aku tetap pada ‘pasang muka polos’ku.
“Oke, aku antar” katanya kemudian. Aku dan Zac mengikuti Vin keluar dari ruangan Daniel.
Kami melewati koridor dengandominasi silver di kana kirinya. Ada beberapa simbol yang tidak aku kenal di beberapa pintu yang kami lewati. Sebagian aku kenali sebagai lambang lambang yunani kuno. Sampailah kami di sebuah ruang besar seperti aula. Di pinggirannya terdapat booth booth yang menjual makanan dan minuman. Di tengahnya diisi oleh meja meja bundar yang dikelilingi oleh kursi bulat dan beberapa set sofa. Aku melihat beberapa orang sedag duduk dan menikmati makanan mereka, yang tampak beda adalah semuanya tampak serius menatap layar notebooknya. Sepertinya tak ingin kegiatan makan mereka menganggu pekerjaan mereka.
Aku mencari makanan apa yang sekiranya mengundang seleraku. Vin masih mengkutiku di belakangku.
“Hey,kami sudah besar. Tenang saja” kataku padanya. Vin terlihat meremehkan ucapanku.
“Tenang saja, kami aman kan di sini?” tanya Zac lagi. Vin mengangguk.
“Oke, kalau ada perlu apa apa cari aku saja” katanya lalu berbalik meninggalkan kantin serta aku dan Zac. Aku memesan sebuah chicken gourmet wrap dan seegelas limun. Zac tampaknya sangat menyukai burger king yang dimakannya tadi hingga dia memesan satu burger king lagi dan rootbeer. Kami lalu memilih tempat duduk di depan sebuah wide flat screen yang sedang menayangkan pertandingan baseball.
“Zac, orang tuaku masih hidup” kataku memulai pembicaraan. Zac mengernyitkan dahinya, memberi tatapan khas kamu-sudah-gila-ya-? Padaku.
___________________________________________________

Chapter 7

Max mengeluarkan sebuah cerutu kuba dari kotak penyimpanannya di atas meja sudut kantornya. Di seberangnya ami sedang mengelap belati kecil tajam yang sangat berkilauan. Mata pisaunya yang sangat tajam membahayakan siapa saja yang membuat marah pemiliknya. Dengan ukiran dua ekor naga pada pegangannya ditambah ukiran dengan detil yang rumit membuat belati perak itu terlihat mahal. Max tampak cemas. Beberapa kali dia melihat ke N8 ditangannya.
“Ada apa, Max?” tanya ammy setelah memasukan belati perak itu ke sarungnya. Ammy mendekati Max. Pakaian hitam serba ketatnya yang dilengkapi dengan boots kulit hitam tingginya membentuk jelas tubuhnya yang kecil namun berotot itu.
“Pengiriman baju zirah dari Fukui Jepang mengalami hambatan. Pemerintah sana curiga akan alasan pameran yang akan diadakan disini” Max menjelaskan kecemasannya.
“baju zirah dari Fukui?” tanya ammy penasaran. Pengetahuannya tentang sejarah memang tidak sepandai pengetahuannya tentang seni bela diri yang sangat dikuasainya.
“Ya, beberapa waktu lalu timku mendengar kabar tentang penemuan satu set baju zirah berlapis emas di kota tsuruga jepang. Ternyata berita itu benar dan material emasnya pun sangatlah langka dan mahal. Aku berhasil mendapatkan seorang kolektor yang mau membayar mahal penemuan itu” Max menjelaskan. Matanya masih tetap fokus pada n8 silver di tangannya.
“Kalau kamu sebegitu cemasnya, pasti transaksi ini sangat menguntungkan” ammy mengamati gerak gerik Max. Max mengangguk. Seorang yang penuh mimpi dan ambisi.
“ammy, bayangkan baju zirah itu peninggalan kekaisaran pertama jepang, yamato. Kolektor gila mana yang bisa menolak tawarans seperti itu?” tanyanya. Matanya yang berwarna cokelat tua memancarkan ambisi dan keserakahan namun sangat pintar di sisi lain. Ammy hanya mengangguk berusaha memahami sifat atasannya itu.
“Yah, kamu pasti bisa mengatasinya. Bukankah selalu begitu Max?” balas ammy lalu mengambil sarung belati yang tadi disimpannya di atas meja dan memasukannya ke bagian belakang bajunya.
“Ammy, jangan lupa beritahu kyle tentang rencana kita. Aku tidak mau ada satupun yang meleset yang dapat merusak segalanya” Max mengingatkan ammy tanpa menatapnya. Ammy lalu menutup pintu besi hitam dan meninggalkan Max seorang diri dengan ambisinya. Ammy merogoh saku black tight pants nya, dikeluarkannya Blackberry Pearl flip 8230 black dari sakunya.
“Kyle, aku tunggu di tempat biasa” katanya setelah menunggu panggilannya tersambung selama bebebrapa saat. Di basement, Bentley Continental GT silver telah menunggunya.

“Kamu yakin kamu nggak mimpi, Blake?” aku mengangguk. Aku sangat yakin apa yang aku alami tadi bukanlah sekadar mimpi. Angin itu, keheningan itu, sayap dan mata itu semuanya terasa sangat nyata.
“Kamu tidak percaya padaku, Zac?” tanyaku sedikit kecewa berharap dia mau mempercayai ceritaku. “sekarang coba kamu jelaskan, kenapa di jaketku ada aroma clary sage?” tanyaku saat ingat apa yang membuatku begitu yakin bahwa apa yang aku alami bukanlah sekedar mimpi. Aku sodorkan jaketku yang masih sedikit basah oleh keringat. Zac mendekatkan hidungnya ke jaketku.
“Blake, kalau ini semua benar. Berarti kalung itu ... “ Zac tidak melanjutkan kata katanya. Matanya mengarah ke kalung tali yang aku pakai. Yang selama ini aku tutupi. Aku mengangguk. “tapi aku kira kalung itu hanya potongan batu biasa?”  tanya Zac. Yah, sebenarnya aku juga mnganggapnya seperti itu sebelum kejadian tadi. Pelan pelan aku longgarkan bagian belakang kalung tali itu agar lebih mudah mengeluarkannya.
“Lihat, nggak ada yang aneh kan?” kataku sambil menunjukkan kalung batu biru itu pada Zac. Dengan seksama Zac meneliti batu liontin batu itu.
“Memang nggak ada yang aneh. Kamu yakin batu ini benar benar bersinar dan menghangat. Maksudku mungkin hanya perasaanmu saja. Tahu kan?” tanya Zac sambil menunjuk nunjuk keningku meyakinkanku bahwa apa yang aku rasakan tadi hanyalah khayalan dan imajinasiku saja. Tapi aku sangat yakin dengan apa yang aku alami tadi. “Ya sudah, sebaiknya kamu habiskan dulu makananmu. Setelah itu kita bahasa lagi masalah ini” lanjutnya menunggu rekasiku. Aku tahu sebagian diri Zac ingin percaya ceritaku, namun sebagian lagi hanya menganggap ceritaku halusinasiku. Aku menggigit gourmet wrap ku yang terasa hambar di mulutku.

                YÍN LÓNG, sebuah restauran Cina yang sangat mewah malam itu sangat ramai. Dengan interior serba merah hitam dan sedikit sentuhan perak, membuat restoran ini menjadi favorit para penyuka masakan cina. Tempat kesukaan Ammy, karena mengingatkannya pada kampung halamannya di Cina. Di hadapannya duduk seorang pria berbadan kekar dengan rambut pirang yang dibiarkan acak acakan mengenakan setelan serba hitam dilengkapi kaca mata hitam.
                “Kamu yakin yang dimaksud Max adalah Vin keaton mantan agen CIA itu?” Kyle membuka kacamata hitam yang dipainya yang memperlihatkan codet di pelipis dekat mata kanannya. Ammy mengangguk. “bukannya kabarnya dia sudah mati beberapa tahun lalu di china?” tanyanya lagi. Kali ini dengan ekspresi tidak suka.
                “Itu juga yang ingin aku tanyakan padamu. Max sangat marah mengetahui Vin terlibat masalah ini. Dan dia ingin kali ini kamu benar benar menghabisinya” Ammy menekankan setiapa kata katanya tanpa menunjukkan ekspresi marah atau mengancamnya. Dingin.
                “Aku yakin, pesawat yang dinaikinya di China dulu sudah benar benar meledak. Tanpa sisa” Kyle terlihat mengingat potongan peristiwa rancangannya beberapa tahun lalu.
                “Dan kamu yakin Vin ada di dalam pesawat itu?”tanya Ammy mengintimidasi. Kyle terdiam. Mengetahui rencana yang sudah disusun rapinya itu kemungkinan gagal adalah sebuah penghinaan bagi dirinya sendiri. “kali ini Max tidak akan memafkanmu kalau kamu gagal lagi. Dia sangat ingin mendapatkan mesin waktu itu apapun caranya Katakanlah ini kesempatan terakhirmu” Ammy lalu meneneggak arak tradisional yang disukainya. Kyle mengangguk. Baginya tidak masalah seberapa pentingnya sebuah mesin waktu itu untuk Max. Masalahnya adalah menghabisi Vin yang telah membunuh adik kesayangannya, Camila. Alunan musik tradisonal cina mengalun melatarbelakangi perasaan dendamnya yang kembali tersulut mendengar nama Vin keaton.

                Vin mengantarku dan Zac ke sebuah banguan di sayap kiri NAS, yang ternyata merupakan asrama yang digunakan untuk tempat tinggal beberapa pegawai NAS. Kamarku dan Zac sengaja dibuat bersebelahan agar kami mudah berkomunikasi. Aku memasuki kamar yang tidak terlalu besar namun terkesan luas dengan dinding biru langitnya. Hanya ada sebuah ranjang ukuran single yang menghadap ke jendela, sebuah meja belajar lengkap dengan satu set komputer dan sebuah kabinet multi fungsi tiga tingkat.
Aku merebahkan tubuhku yang masih terasa lemas ke atas ranjang setelah menyimpan backpacku di atas kursi. Perlahan aku memutar ulang kejadian hari ini. Tidak pernah tersirat di khayalanku sekalipun aku akan terlibat urusan seperti saat ini. Mesin waktu? Intel? Sebuah perusahaan raksasa? Walaupun aku ingin mengingkarinya semuanya tampak nyata saat ini belum lagi pria bersayap bermata spiral itu. Semuanya sekana membuatku merasa amat sangat lelah. Perlahan aku tutup mataku dan membiarkan diriku diakuasai mimpi, dan berharapa esok saat bangun semuanya akan berjalan normal. Diantara sisa kesadaranku yang samar aku mencium aroma clary sage yang menenangkan dan melihat bayangan berupa siluet rentangan sayap di luar jendela kamarku.
__________________________________________________





Chapter 8

Mimpi itu datang lagi. Mimpi tentang ledakan sebuah pesawat di tengah hutan asing. Lalu tiba tiba mimpi itu berpindah tempat ke sebuah tempat lain. Sebuah area berundak dengan bagunan bangunan tinggi di setiap undakannya. Banguna tinggi yang sangat mewah karena dilapisi emas dan perunggu sebagai ornamennya. Aku tidak melihat seorangpun disana. Maka aku beranikan diriku mengeksplor area yang tampak asing bagiku itu. Aku sedkit aneh saat tidak menemukan satupun tanaman tumbuh di sekitarnya, namun udara yang aku hirup sangat segar, bersih namun terkesan tua.
Aku melihat banyak patung hewan dari tembaga di depan setiap bangunan yang aku lalui. Walaupun aku yakin hewan hewan itu adalah hewan biasa yang aku tahu, namun auranya lebih kuat, lebih gagah dan lebih menakutkan. Seperti seekor singa tembaga dengan tinggi hampir setubuhku, dia tampak sangat kuat dan membahayakan denganmulutnya yang terbuka dan menampakkan taring tajamnya. Pahatan yang sangat sempurnapun berhasil membuat sepasang mata tajam yang seolah selalu mengawasi gerak gerik tiap targetnya. Dan betapa kagetnya aku saat aku menyentuh badannya karena kekagumanku, badan itu terasa hangat.
Aku beranikan diriku memasuki sebuah bangunan besar yang di depannya terdapat dua patung gajah mengenakan mahkota emas di kepalanya. Aku tertarik melihat ukiran yang terdapat di sekeliling mahkota itu. Sangat indah dengan beberapa bebatuan seperti safir, zamrud dan rubi yang berkilauan. Aku dorong gerbang bangunan itu yang ternyata tak seberat perkiraanku. Aku langsung terpukau melihat apa yang menyambutku, delapan sosok pria dan wanita dengan sayap dibalik punggung mereka yang terbentang lebar, seolah menyambutku.
“Selamat datang, Blake” seorang pria bersayap perak dengan rambut perak tampak kontras dengan mata biru nya yang terlihat seperti cakram, berjalan mendekatiku. Aku perlahan mundur menghindarinya namun langkahku terhenti saat melihat orang tuaku duduk bagai raja dan ratu di singgasana di belakang barisan manusia bersayap itu, tersenyum.

                Entah berapa lama aku tertidur saat aku terbangun oleh suara ketukan dan Zac memanggilku untuk mengajakku sarapan. Aku kunci tatapanku di jendela dimana semalam, dibawah ketidak sadaranku, aku melihat sosok bersayap. Dengan malas aku langkahkan kakiku.
                “Ayo bangun pemalas!” Zac menyambutku dengan senyum cerianya. Dia memang selalu penuh semangat apa pun yang terjadi. Teman yang aku buthukan saat aku mulai kehilangan semangat dalam hidupku. “Vin menyuruhku membangunkanmu dan mandi sebelum kita sarapan bersamanya dan Daniel” lanjutnya sambil menyerahkan celana jeans hitam dan t-shirt merah padaku. Yah, aku memang tidak membawa persiapan apa apa, karena toh siapa yang tahu aku tidak akan kembali lagi ke asramu setelah mengambil peninggalan orangtuaku di rhumb. Saat itu Zac sudah bersih dan rapi, dengan jeans abu abu dan polo shirt berwarna biru tua entah milik siapa.
                Aku mengambil pakaian yang dibawakan Zac dan menyuruhnya menunggu sebentar. Sepertinya aku memang membutuhkan guyuran air dingin untuk memnyadarkanku dari halusiNASi dan mimpi semalam. Setelah merasa bersih dan segar berkat guyuran air shower ke badanku aku menghampiri kaca untuk memastikan wajahku tidaklah sekuyu pikiranku, dengan masih berbalut handuk. Mataku kaget melihat bagian dada atas hingga punggungku dipenuhi oleh tato aneh yang menyambung seperti membentuk peta.
                Aku berusaha menggosok gambar itu dengan keras berusaha menghapusnya. Namun usahaku sia sia saja. Gambar itu seperti dibuat dengn tinta permanen yang tidak bisa hilang. Tapi aku sadar sekali aku tidak pernah mempunyai ataupun mengharapakan mempunyai tato ditubuhku.
                Aku langsung memakai pakaianku dan bergegas keluar menghampiri Zac yang sedang asyik bermain online game.
                “Kenapa mukamu panik begitu?” tanyanya saat aku menghampirinya dengan rusuh.
                “Ada yang aneh dengan tubuhku, Zac” kataku singkat. Aku tarik bagian atas kaosku, membuka sedikit bagian punggungku untuk memperlihatkan tato yang tiba tiba aku miliki.
                “Wow,,keren! Kamu nggak pernah bilang kalau kamu punya tato sekeren itu, Blake”  Zac sangat kagum dengan tatoku itu. Aku langsung menarik kaosku lagu.
                “Zac, aku nggak pernah mau punya tato. Dan kalaupun aku memutuskan membuat tato aku pasti memberi tahumu” kataku kesal.
                “Tapi tato tadi sungguhan keren, Blake” aku hanya mendengus kesal mendengar kata katanya. Oke tatonya memang keren. Tapi mendapatinya secara mendadak ada di tubuhmu sangatlah menakutkan.
                “Zac, tato ini tiba tiba saja muncul” kataku kemudian sambil mencengkram lengannya. Zac mengernyitkan keningnya menatapku tak percaya.
                “Tapi membuat tato itu membutuhkan waktu lama, Blake” aku mengangkat bahuku. Skupun sama sekali tidak tahu kapan dan siapa yang membuat tato itu di tubuhku. “Kamu harus beritahu ini pada Daniel. Mungkin dia tahu sesuatu” kata Zac akhirnya melihatku kebingungan. Aku mengangguk. Kami lalu menuju kantor Daniel sesegera mungkin untuk mengabarkan keanehan ini pada Daniel.

                Aku mengenakan kembali kaos yang semula kulepas untuk menunjukkan keseluruhan tato itu pada Caroline. Ekspresinya datar. Tidak terkejut ataupun terpukau seperti Zac saat aku beritahu tadi pagi. Caroline lalu mengajakku kembali ke kantor Daniel, dimana Zac, Vin dan Daniel sudah menunggu. Tampaknya kabar yang aku bawa lebih menarik daripada feta cheese omellete  hangat yang harumnya membuat perut kosongku meminta asupan. Caroline mendekati Daniel dan mengatakan sesuatu padanya. Membuatku mempunyai firasat buruk akan apa yang terjadi padaku. Zac menatapku meminta penjelasan yang tidak aku tanggapi. Aku langsung melahap feta cheese omellete bagianku. Zac mengikutiku menyantap feta cheese omellete nya setelah tak mendapatkan jawaban atas keingintahuannya.
                “Blake, tato yang ada di tubuhmu itu mirip seperti peta pada perkamen yang ditemukan Jon dan Angel di china” Daniel menatapku serius.
                “Kau yakin?” tanyaku menghentikan suapan feta cheeseku. Daniel mengangguk. “lalu dimana perkamen itu sebenarnya?. Maksudku, bisa saja kau salah lihat atau apalah” tanyaku berharap itu hanyalah imajiNASi Daniel belaka.
                “Hilang. Mungkin terbakar bersama pesawat dimana orabg tuamu dianggap meninggal atau justru menghilang dibawa oleh kedua orang tuamu” Vin yang sedari tadi hanya diam menjawab pertanyaanku.
                “Lalu siapa yang menggambarnya di tubuhku? Dalam waktu semalam?” tanyaku lagi berharap mendapat penjelasan. Namun baik Vin, Daniel maupu Caroline, hanya terdiam. Sepertinya ini merupakan teka teki yang besar bagi mereka. Aku habiskan sisa feta cheese omellete ku walaupun selera makanku sudah hilang. Jadi semakin banyak saja misteri yang melingkupiku dua hari ini. Berani taruhan aku tidak akan merasa terkejut lagi apabila besok aku mendapati seekor anjing bisa berdansa.

                Kyle tampak serius manatap layar macbook air nya. Perhatiannya terfokus pada beberapa artikel yang di dalamnya berkaitan dengan Vin keaton. Namun perhatiannya lalu beralih pada sebuah foto yang menggambarkan ledakan sebuah pesawat kecil di tengah hutan pedalaman meksiko. Foto tersebut tampak buram karena diambil oleh kamera amatiran dan dari jarak yang cukup jauh. Kyle memperbesar foto itu beberapa kali untuk melihatnya lebih jelas. Dibalik kobaran ledakan pesawat itu tampak sebuah bayangan hitam bersayap. Kyle meneliti bayangan itu lebih seksama. Meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah sebuah bayangan tidak penting yang tertangkap kamera. Namun sebagian dirinya yakin keberadaan Vin saat ini berhubungan dengan bayangan hitam bersayap itu.
______________________________________________________

Chapter 9

                Kali ini Vin mengendarai Citroen C7 putih dengan kecepatan tinggi. Aku masih heran, darimana NAS memiki berbagai macam mobil mewah di basementnya . Aku memperhatikannya melalui spion yang walaupun fokus menyetir namun pikirannya entah dimana. Aku menyikut Zac dan menceritakan bayangan yang aku lihat semalam di depan jendela kamarku.
                “Blake, siapa tahu itu bukan halusinasimu dan orang itu yang membuat tato di tubuhmu” Zac sepertinya mulai berpikiran bahwa apa yang aku alami adalah hal biasa.
                “Tapi kamu sendiri tahu kan, butuh waktu lama untuk membuat tato kecil. Apalagi tato sebesar dan sedatail ini, Zac” sanggahku.
                “Yeah, semuanya tampak wajar saja saat ini, Blake. Pria bersayap?” tanyanya mengingatkanku. “Kamu sendiri yakin kan bahwa itu bukan imajinasi konyolmu saja” tanya Zac. Aku mengangguk. Yah, rupanya Zac mulai berpikiran sama denganku. “Kamu yakn tidak akan menceritakan mimpimu semalam pada Daniel atau Vin? Siapa tahu mereka punya penjelasannya” Zac merogoh saku jeansnya dan mengambil sebungkus bubble gum lalu menawarkannya padaku. Penelitian menyebutkan bahwa mengunyah permen karet bisa membantu pikiran menjadi tenang, mungkin itu sebabnya Zac selalu membawa persediaan permen karet kemanapun dia pergi. Aku menggeleng, entah mengapa aku belum yakin mau menceritakan mimpiki semalam pada Vin dan Daniel. Melihat reaksi mereka kemarin yang sepertinya menganggapku terkena trauma hebat hingga berkhayal yang bukan bukan.
                “Jadi aku harap kalian bisa bersikap biasa saja saat melihat ray. Yeah walaupun dia kesannya aneh, tapi dia merupakan salah satu yang terpintar di NAS. Perbedaan antara jenius dan gila itu sangat tipis kan?” Vin menasehati kami tanpa memandang kami. Daniel menyuruhnya untuk mengantar kami menemui seorang ahli arkeolog, Ray Sulley, yang mungkin dapat menterjemahkan arti tato yang ada di tubuhku.
                “Yah, tenang saja, mungkin dia akan tampak biasa saja bagiku sekarang” komentarku. Zac mengangguk setuju. Aku alihkan pandanganku keluar jendela melihat pepohonan rindang yang menaungi jalan sepi itu. Tampak tenang dan normal. Namun mataku lalu menangkap bayangan hitam terbang diantara pepohonan itu. Terlalu samar, namun aku yakin bayangan itu terbang menyamai kecepatan Citroen C7 Vin. Aku langsung menarik tangan Zac dan menunjukkan kelabat bayangan yang terbang rendah diantara pepohonan yang seolah mengikuti dan mengawasi kami.
                “Apa itu?” tanya Zac sambil memncingkan matanya mengikuti arah telunjukku.
                “Manusia bersayap” jawabku lirih. Zac menatapku.
                “Jadi seriusan ada ya?” tanyanya lagi. Aku mengangguk. “Sepertinya kita sudah mulai gila, Blake”

                “Apa ini? Ini hanya bayangan saja bagiku. Jangan main main, ammy!” Max melemparkan fax yang dikirim Kyle padanya. Sebuah gambar bayangan hitam bersayap diantara kobaran api pesawat yang meledak dan terbakar di sebuah hutan.
                “Tapi Kyle bilang, sepertinya ini ada hubungannya dengan Vin keaton” ammy mengambil kembali kertas yang dilemparkan Max.
                “Hah! Itu hanya alasan atas kegagalannya saja. Kalau bukan kamu yang minta, aku sudah malas berurusan dengannya lagi” Max lalu mengambil sebotol chateau mouton rothschild untuk menenangkan dirinya.
                “Tapi nyatanya selama ini dia tidak pernah mengecewakan bukan. Yah, minus kejadian di Meksiko waktu itu” Ammy mengingatkan. Max tampak tak peduli. Ammy lalu keluar dari kantor Max, percuma berdebat dengan Max saat dia sedang emosi seperti itu. Dengan seksama diperhatikannya foto bayangan hitam di tangannya. Memang tampak samar, tapi di lain sisi juga tampak nyata. Ammy bergidik memandangnya

                Akhirnya Vin menghentikan Citroen C7 nya di sebuah rumah besar namu terkesan sunyi. Tidak ada seorangpun di pos jaga depannya. Aku masih mencuri pandang ke sekitarku, memastikan apakah bayangan hitam bersayap itu mengikuti. Namun aku tidak melihat adanya bayangn itu.Vin menyuruhku dan Zac untukkeluar dan mengikutinya masuk ke dalam rumah besar itu. Mungkin kalau tidak bersama Vin, aku sudah keburu pergi dari situ, auranya sangatlah menyeramkan. Tak ada tanda kehidupan di dalam rumah itu. Sepertinya Zac juga merasakan hal yang sama denganku.Matanya tak henti memperhatikan segala sudut ruangan. Berharap menemukan tanda tanda kehidupan.
                Langkah Vin terhenti di depan sebuah pintu kamar. Diketuknya pintu itu. Tak ada jawaban. Vin akhirnya memutuskan membuka pintu yng ternyata tidak terkunci itu. Dari balik punggung Vin aku melihat seorang pria kecil yang sudah beruban sedang berkutik entah dengan apa di depannya hingga tidak menyadari kehadiran kami. Vin berjalan ke arah pria itu. Mungkin pria itu memilki masalah pendengaran pikirku, ya wajarlah melihat rambutnya yang sudah memutih, pasti dia sudah sangat tua. Aku mengikuti Vin.
                “Ray” panggil Vin sambil memegang pundak pria itu. Ray berbalik. Ternyata benar usianya sudah lanjut. Keriput tampak dari wajahnya dan kacamata tebal entah minus berapa menghiasi wajah tuanya itu. Walaupun begitu matanya nampa sangat cemerlang dan terlihat hidup menunjukkan kecerdasan yang dimilikinya. Pria itu memandang Vin, mencoba mengingat siapa yang ada di hadapannya.
                “Vin?” tanyanya ragu dan melepaskan kacamatanya. Vin mengangguk dan mendekati Ray lalu memeluknya.
                “Siapa mereka?” tanya Ray sambil menatapku dan Zac.
                “Blake Mars” jawab Vin sambil menujukku. Aku hanya tersenyum. Ray maju mendekat ke arahku. Memperhatikanku dengan seksama seolah aku adalah barang baru.
                “Kau anak Jon dan Angel?”tanyanya lagi dengan nada tak percaya. Aku mengangguk. Ray menatapku sebentar lalu kembali pada Vin.
                “Daniel ingin kau memeriksa sesuatu, Ray” nada Vin terdengar serius.
                “Apa?” tanya Ray.Vin menatapku.
                “Di tubuhnya ada tato yang persis seperti gambar yang ada di perkamen yang ditemukan Mars dulu dan ...”
                “maksudmu perkamen yang berisi tentang mesin waktu itu?”Ray memotong perkataan Vin. Vin mengangguk.
                “Seperti yang kamu tahu, perkamen itu hilang. Atau mungkin terbakar.dan sekarang entah mengapa gambar perkamen itu tercetak jelas di tubuhnya” Vin menatapku.
                “Tapi siapa yang menggambarnya?” tanya Ray heran.
                “Itu juga yang harus kita cari tahu, Ray” tambah Vin. Vin menyerahkan hasil foto Caroline pada Ray. Yah, memang tak mungkin kan membiarkan Ray melihat sendiri tato itu di tubuhku. Karena walaupun orang tua dia tetaplah pria.
                Ray mengambil foto itu dari tangan Vin dan menatapnya lekat. Dia lalu mencari sesuatu di deretan buku buku yangberjajar di lemari kayu besar di ruangannya itu. Aku, Zac dan Vin masih dibiarkan berdiri. Ray larut dalam mainan barunya. Seperti tak menyadari kehadiran kami. Aku melemparkan pandangan heran pada Vin atas sikap Ray.
                “Yah, kadang memilki otak terlalu ceerlang membuatmu hilang dari dunia nyata,Blake” seolah tahu arti tatapanku. Zac nyengir mendengarnya.
                Selama hampir sejam Ray membiarkan kami menunggu.mungkin kalau ada kebakaran di rumahnyapun dia tidak akan sadar. Akhirnya Ray meletakkan buku buku yang dibacanya dan berbalik memandang tajam Vin.
                “Vin, kita harus ke Meksiko sekarang” katanya kemudian. Aku dan Zac bertatapan.
                “Ada apa Ray?” tanya Vin tak kalah bingung mendengar ucapan Ray.
                “Tato itu adalah peta yang bisa membawa kita ke tempat dimana mesin waktu itu berada” ujar Ray lalu berdiri dan keluar dari ruangan itu begitu saja meninggalkan kami. Vin lalu mengingkuti Ray, aku dan Zac idak tinggal diam.
                Vin menyuruhku dan Zac untuk masuk ke dalam Citroen C7 lebih dulu. Vin menghampiri Ray yang sudah berada di dalam Peugeot 605 merahnya. Tampak terlibat pembicaraan serius.
                “Blake, serius deh. Semakin lama aku semakin bingung mana yang nyata dan khayalan” kata Zac tiba tiba. Aku mengangguk menyetujui pendapatnya.
                “Yah, tapi semua kegilaan ini semakin terasa nyata Zac” jawabku.
                Tiba tiba entah darimana 3 orang pria berbadan besar dengan setelan kemeja hitam menghampiri Vin dan memukulnya dari belakang. Vin tampak kaget dengan serangan mendadak itu. Namun vin dapat memberi perlawanan yang seimbang.
                Aku dan Zac tak dpt berkata apa apa melihatnya, reflek kami merendahkan posisi duduk kami. Bersembunyi agar tak terlihat. Yah memang terdengar pengecut, tapi apa yang bisa kami lakukan menghadapi 3 orang yang tampak seperti raksasa bagi kami itu.
                Vin melancarkan serangan serangan yang berhasil membuat ketiga pria itu kelabakan menghadapinya. Aku takjub melihat kemampuan Vin berkelahi, ya walaupun memang bukan hal yang aneh. Tapi menghadapi tiga pria kekar dan besar itu bukanlah hal yang mudah. Ray lalu keluar dari Peugeot 605 nya dan masuk ke dalam citroen C7 Vin.
“Ada apa, Ray?” tanyaku khawatir
“Kita harus secepatnya pergi dari sini” Ray menyalakn mesin mobil dan memacunya.
“Tapi kita tidak bisa meninggalkan Vin sendiri” Zac tampak keberatan dengan Ray.
“Tenanglah, Ray sudah biasa berurusan dengan hal seperti itu. Dia pasti bisa membereskannya dengan mudah” Ray terus memacu Citroen C7 itu.
“Tapi siapa mereka?” tanyaku masih tidak bisa melepaskan pandanganku dari Vin yang perlahan menjauh.
“Suruhan Max” jawab Ray singkat.

  Tiba tiba aku rasakan bandul kalung di dadaku memanas lagi. Aku mencengkram tangan Zac.
“Kau kenapa, Blake?” tanyanya dengan nada khawatir.
                Aku rasakan kepalaku berputar. Kali ini tak hanya dadaku yang memanas, tapi bagian tubuhku yang bertato juga ikut memanas. Kurasakan tangan Zac memegang keningku. Aroma clary sage kembali memenuhi penciumanku sangat kuat. Samar aku mendengar seseorang memanggil namaku  dan aku langsung tak sadarkan diri.

                “Blake. Blake” aku mendengar suara yang sangat familiar memanggil namaku. “Blake” panggilnya lagi diiringi dengan sentuhan hangat di keningku. Perlahan aku buka mataku. Kepalaku masih sedikit pusing, ditambah lagi cahaya yang tiba tiba menerpaku.
                “Ibu?” tanyaku sedikit tak percaya melihat siapa yang ada di sampingku, memegang keningku. Ibu hanya tersenyum
                “Kamu tidak apa, Blake?” tanya ibuterlihat sedikit khawatir.
                “Tak apa , bu. Tapi kenapa aku ada di sini? Dan kenapa ibu juga di sini?” tanyaku heran melihat ke sekeliling tempat yang tidak aku kenal. Sebuah ruangan besar berdinding tembaga dengan berbagai hiasan ornamen yang tidak pernah aku lihat namun seperti terbuat dari emas.
                “Ibu belum bisa memberi tahumu, Blake. Ayah dan ibu sangat khawatir padamu” jawab ibu sambil mengusapkeningku.
                “Kalau begitu ayo kita pulang, Bu” ajakku. Wajah ibu tampaj sedih lalu menggeleng.
                “Tidak semudah itu, sayang. Ibu mohon apapun yang terjadi kau harus percaya pada apa yang kau yakini. Dan tetaplah berada di dekat Vin, karena hanya dia yang bisa melindungimu” sebelumaku sempat bertanya lebih jauh bdanku seolah tersedot ke dimensi lain. Manjauh dari tempat itu. Menjauh dari ibuku.
                “Syukurlah kamu tidak apa apa,Blake” suara Caroline yang terdengar khawatir menyadarkanku. Aku sudah berada di kantor Daniel lagi. Didampingi Caroline. Bukan ibuku. Kepalaku masih berat. Aku melihat Zacyang menatap aneh ke arahku.
                “Kau kenapa?” tanyaku merasa terganggu dengan tatapannya.
                “Matamu, Blake” tunjuknya. Aku masih tidak mengerti. Sepertiny tidak ada yang salah dengan mataku, yah memang sedikit pusing sih. tapi itu pasti karena aku baru sadar dari pingsanku.” Matamu berubah” lanjutnya. Mendengar nada bicaranya yang serius aku mulai takut. Caroline menyerahkan cermin padaku. Dan sdi bagian mata yang seharusnya berwarna cokelat, warna mata keluargaku, kini tergantikan oleh warna putih. Dan di sekitar pupil hitamku terdapat corak aneh hampir sama seperti huruf yang ada di tatoku.
______________________________________________________

Chapter 10

                “Aku bayar kalian bukan untuk babak nbelur seperti ini. Masa mangurus satu orang saja kalian jadi seperti ini. Pecundang!” ketiga pria tinggi besar kekar itu tak berkutik di depan Max. Ammy mendekati Max dan memberikannya sloki berisi Carrabella Pinot Noir. Max mengambil sloki itu dengan tidak sabar, dihirupnya aroma oak, vanilla, clove dan sedikit rempah yang disukainya itu. Ammy tahu sekali apa yang dapat mengurangi kemarahannya. Ammy menyruh ketiga pria itu untuk keluar sebelum Max mulai emosi lagi.
                “Lihat kan? Kerjanya nggak ada yang becus” Max mulai mengomel.
                “Sudahlah, mulai saat ini serahkan saja urusan Vin pada Kyle” Max menatap Ammy sinis.
                “Kau yakin dia tidak akan mengecewakanku lagi?” tanya Max curiga.
                “Setidaknya dia selalu berusaha, Max” jawab Ammy singkat. Max tak ingin mendebat Ammy. Dia harus mengakui kadang wanita itu memiliki feeling yang bagus dalam memilih orang. Kadang parpaduan pikiran dan perasaan memang dibutuhkan bukan? Max lalu melanjutkan pekerjaanya yang tertunda karena mendengar berita tidak menyenangkan yang dibawa anak buahnya itu.
                “Aku akan mengirim Kyle ke Meksiko besok. Kabarnya NAS juga akan ke sana secepatnya. Aku tidak tahu apa yang mereka temukan, tapi setidaknya berada disana lebih cepat merupakan keputusan yang tepat” lanjut Ammy setelah memastikan Max kembali ke emosi normalnya. Max mengehntikan kegiatan mengecek berbagai macam laporan yang ia terima.
                “Meksiko lagi?”tanya ragu mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Ammy mengangguk yakin. Max berpikir sejenak, lalu mengangguk. “oke, lakukan apa yang menurutmu benar. Tapi ingat, pastikan aku menerima kabar baik” Max menekankan kalimatnya. Ammy mengangguk dan keluar dari ruangan Max.
                “Kyle, cepat kemasi barangmu. Aku akan menjemputmu beberapa menit lagi. Jangan lupa bawa itu” Ammy lalu memasukkan kembali Blackberry Pearlnya ke dalam saku celananya.

                Aku masih terdiam tak bisa berkata apa apa melihat bola mataku yang tampak aneh itu.
                “Kau yakin tak apa apa, Blake? Sakit atau apa?”tanya Zac menatapku cemas. Tapi tetap tidak dapat menyembunyikan kekagumannya dari bola mata anehku itu. Zac memang selalu tertarik dengan hal hal aneh dan mudah menjadikannya “barang keren” sekali lihat. Aku menggeleng. Aku memang tidak merasakan hal yang aneh. Mungkin kalau Caroline tidak memberikan cermin padaku, aku tak akan tahu ada yang salah dengan mataku.
                “Aku tampak aneh ya?” tanyakupada Zac.Zac menggeleng
                “Kamu tampak cool!” jawabnya antusias. Persis seperti apa yang kuduga. Aku memalingkan wajahku menatapa Daniel yang sedang serius berbicara dengan Ray. “mana Vin?” tanyaku saat tidak menemukan tanda tanda kehadirannya di ruangan itu.
                “Ganti baju. Dia tampak payah tadi. Tapi untungnya dia tak apa. Kau yakin tak apa??” tanya Zac lagi. Aku menggeleng lagi. Untuk ukuran teman pria, Zac memang sangat mudah khawatir. Aku masih tak habis pikir bagaimana Vin dapat mengalahkan ketiga orang pria besar itu. Ya walaupun aku tahu mungkin itu terlihat mudah bagi Vin, tapi tetap saja,tiga lawan satu sangat pengecut.
                Tak lama Vin masuk ke dalam ruangan dengan setelan kaos hitam dan jas abu abu yang lebih rapi. Tidak tampak sedikitpun bekas perkelahian tertinggal di tubuhnya. Mungkin tadi hanya bajunya saja yang tak karuan.
                “Kau sudah sadar?” tanyanya ke arahku. Aku mengangguk. Vin mendekatiku dan melihat ke dalam mataku. “Matamu kenapa?” tanyanya dengan nada datar seolah itu bukanlah hal besar. Aku hanya mengangkat bahu. Vin lalu menghampiri Daniel dan Ray.
                Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, karena entah mengapa mereka seperti tak ingin aku mendengar pembicaraan mereka. Tapi dari raut mereka aku tahu mereka sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting. Aku memlemparkan pandangan bertanya pada Zac, tapi sama sepertiku, dia juga tidak tahu apa yang sedang Daniel, Ray dan Vin bicarakan.
                Daniel lalu berhenti bicara dan berpikir sesaat. Matanya lalu tertuju padaku dan Zac.
                “Besok pagi kita akan ke Meksiko” katanya kemudian. Lebih terdengar seperti perintah daripada pertanyaan. Walaupun bingung, aku dan Zac akhirnya mengangguk seperti kerbau dicocok hidung. Daniel lalu menyuruhku dan Zac untuk segera membersihkan diri dan mengisi perut kami agar tidur kami malam ini nyenyak. Tapi sepertinya setelah semua yang terjadi baik aku maupun Zac tak akan bisa tidur nyenyak lagi.
                Setelah menghabiskan makan malam kami yang tidak terlalu mengundang selera. Aku dan Zac berpisah kembali ke kamar masing masing. Badanku baru terasa pegal setelah kejadian hari ini. Aku putuskan untuk menyegarkan tubuh dan pikiranku dibawah kucuran air dingin. Aku kembali bergidik saat memandang cermin dan menemukan sebagian tubuhku bertato dan bola mataku yang aneh. Ada apa dengan tubuhku?
                Aku berusaha tak memikirkan apa yang terjadi dan memejamkan mataku untuk beristirahat. Namun bayangan akan pria bersayap yang mengikuti kami tadi masih jelas di ingatanku. Saat memejamkan mata aku merasakan hembusan angin dingin menyentuh kulitku. Angin dingin yang juga membawa aroma clary sage. Aku ingin membuka mataku tapi aku terlalu takut menemukan apa yang ada di hadapanku.
                “Blake. Blake” sebuah suara berat dan basah memanggilku. Mengingatkanku pada suara yang kudengar saat di padang rumput pertama kali aku mencium aroma clary sage itu.
                Aku beranikan diri membuka mataku. Aku menemukan seorang pria dengan sayap terbentang melayang di depan kasurku. Aku tak tahu darimana dia masuk, karena jendela kamarku masih tertutup rapat. Mata spiralnya masih manataku. Namun kali ini tidak membuatku tersedot kedalamnya.
                “Blake” panggilnya lagi. Suaranya seolah menyuruhku mendekatinya. Penuh perintah dan aku tak kuasa menolaknya. Reflekku mendekatinya. “Kami sudah menunggumu. Yakinlah dengan perasaanmu” suaranya seolah masuk ke dalam pikiranku. Atau memang suara itu masuk ke dalam pikiranku karena aku tidak melihat gerakan dari bibirnya.
                “Siapa?” tanyaku dan kusadari aku hanya memikirkan pertanyaan itu dalam pikiranku dan memandang matanya.
                “Sebentar lagi kau akan tahu. Persiapkan dirimu” suara itu kembali memasuki pikiranku. Dan memudar perlahan lalu menghilang sebelum aku sempat menanyakan apa maksud pernyataanya.
______________________________________________________

Chapter 11

                Kepalaku masih pusing akibat kurang tidur dan efek jet lag perjalanan ke Meksiko. Aku memang sudah lama tidak bepergian dengan pesawat dan sejenisnya semenjak kedua orang tuaku memutuskan untuk mengasramakanku. Mungkin mereka tidak tega membiarkanku menjadi manusia nomaden yang tidak memilki teman dan menghabiskan masa kanak kanak dan remajaku dengan berpindah pindah tempat.
                Mexico City International Airport sudah ramai dengan orang saat kami sampai. Aku merasakan perutku keroncongan. Aku memandang Zac yang sedeng meneliti tiap sudut bagian bandara itu. Aku menyikutnya. Pandangannya lalu teralihkan padaku dengan ekspresi terganggu.
                “Kamu kampungan sekali, Zac” sindirku melihat tingkahnya
                “Hei, aku tidak seperti kamu yang sejak kecil sudah keluar negeri, Blake” belanya sambil bersungut. Aku hanya tersenyum.
                Kami hanya ditemani Vin dan Ray. Vin sebagai bodyguard kami sedangkan Ray bertugas sebagai penghubung kami di Meksiko.aku baru tahu kalau ternyata Ray adalah orang yang sangat dikenal di dunia arkeologi, mengesampingkan keanehannya.
                “Kenapa kita ke Meksiko sih?” tanyaku pada Vin. Daniel belum juga membalas pertanyaanku sebelum kita berangkat tadi. Vin hanya mengangkat bahunya. Tapi aku tahu pasti dia menyembunyikan sesuatu dariku. Aku menatap Ray yang tampak bingung mencari seseorang.
                “Harusnya dia sudah menjemput kita” katanya. Matanya masih mencarike sekeliling bandara. Mataku ikut mencari ke sekitar walaupun aku tak tahu siapa yang seharusnya menjemput kami. Di kejauhan aku melihat seorang pria dengan kulit coelat dan rambut bergelombangnya yang sedikit erantakan mengacung acungkan kertas dengan nama Dr. Ray. Aku menarik lengan Ray dan menunjuk ke arah orang yang mengacungkan kertas dengan namanya.
                Ray lalu berjalan menghampiri pria itu diikuti oleh Vin.
                “Mana Samuel?” tanya Ray pada pria itu.
                “Samuel sakit. Jadi saya yang menggantikannya” jawab pria itu. Vin memasang muka curiga pada pria itu. Entah memang pembawaanya atau memang ada sesuatu yang tidak baik, tapi aku selalu melihat Vine selalu penuh waspada.