October 29, 2010

Sleepwalker

 -You just keep pushing. you just keep pushing.
i made every mistake that could be made. but i just keep pushing-


"mas junaaaaaa!!!ayo cepat. aku sudah telat nih ke kampus" aku memanggil, arjuna, kakakku yang selalu saja bermasalah dengan pencernaannya setiap pagi. tak sabar menanti kemunculannya dari pintu, aku mengklakson suzuki sx4 peninggalan papa. setelah beberapa menit menunggu, akhirnya mas arjuna muncul di ambang pintu. mulutnya masih menggigit sandwich bikinan mama. dasar nggak mau rugi, habis setor angsung isi lagi.
"cepat dong, mas. aku ada kuis jam pertama nih. kalau sampai aku di reject semua gara gara mas juna" kataku kesal mengingat Pak Ismail adalah dosen yang nggak bisa nego masalah waktu.
"iya bawel. kamu numpang saja rusuh banget" arjuna masuk ke dalam mobil dan meletakkan peralatan kantornya di kursi belakang.
"ya aku kan nggak tahu motorku bakal lama masuk bengkel. lagian kalau nanda ngga sakit juga aku pasti minta jemput dia. segitunya nggak mau antar adiknya" aku bersungut kesal. nanda, teman seperjuanganku dari smp, yang rumahnya tak terlalu jauh dari rumahku, sekarang sedang terbaring di rs karena db.
"iya iya, bercanda, na" mas juna mengusap kepalaku. 
sejak papa meninggal, aku dan mas juna harus bisa hidup mandiri. walaupun mama yang seorang dokter anak masih aktif, tapi sebisa mungkin kami tak ingin merepotkan beliau. aku selain kuliah semester 4 juga bekerja paruh waktu di black cup. sebuah kedai kopi kecil dekat kampusku. sedangkan mas arjuna adalah seorang arsitek di sebuah perusahaan real estate. usia kami terpaut cukup jauh, 5 tahun. karena itu aku juga menganggapnya sebagai pengganti papa. selain partner ributku pastinya.

"nanda masih belum sembuh juga, na?" galang menghampiriku yang sedang menyalin catatan sekar. galang adalah teman baikku selain nanda. dengan rambut mohawak dan dandanan ala pete wentz nya.
"besok katanya sudah balik. bosen dia disana. tahulah lo, ngga bisa berhedon" jawabku tanpa menatap galang yang seenaknya melahap batagorku. 
"hahaha,,mending lo bilangin sama tante ida anaknya pindahin aja dirawat inap di mall atau butik, pasti cepat sembuh" galang menambahkan. nanda memang seorang fashionista, apa saja yang sedang trend pasti diikutinya. aku dan galang kadang sampai geleng geleng melihat kelakuannya. mulai dari hunting berbagai macam barang, midnight sale sampai bela-belain cari tahu siapa yang mau ke luar negeri buat dititipin barang. karena maklum nanda adalah anak semata wayang, jadi tante ida dan om anto nggak mengizinkan dia pergi sendiri.
"biayanya bakal lebih mahal lah, lang" balasku. suasana kantin saat itu cukup ramai. beberapa mahasiswa baru tampak hilir mudik dengan setelan hitam putihnya. sedangkan angkatan lama, seperti biasa berkerumun mencari mangsa mangsa segar.
"kirana!" sebuah suara memanggil namaku. aku melihat pandu dari kejauhan melambai ke arahku. dia adalah ketua klub basket yang aku ikuti di kampus. "sini sebentar" panggilnya lagi. aku menggeleng, selain karena masih harus menyalin catatan sekar, aku malas berjalan diantara kerumunan orang-orang itu. akhirnya pandu yang menghampiriku dan galang yang baru aku sadari sedang menghabiskan piring kedua batagornya.
"sibuk?" tanya pandu setelah sampai di depanku. aroma ck bee nya langsung menguar dan menghampiri indera penciumanku.
"lumayan. kenapa, ndu?" tanyaku. 
"nanti kalau sempat temani aku pesan kaos klub ya sekalian buat anggota baru" ajaknya. pandu selalu menggunakan aku-kamu saat bicara dengan siapa saja. hal itu entah mengapa membuatnya terlihat manja di depanku. padahal dengan tubuh setinggi 185 cm, kulit puth bersih, otot lengan dan six pack yang sangat kentara membuatnya jauh dari kesan manja. ditambah lagi dengan black thick frame glasses nya, dia tampak sangat cocok dengan jabatan ketua.
"jam berapa? gue kan ada jadwal di black cup"
"emang kamu kerja jam berapa?" tanyanya lagi.
"jam 4" jawabku singkat karena aku melihat sekar di kejauhan berjalan ke arahku.
"oke, sebelum jam 4 bagaimana?. nanti aku antar ke black cup nya" kata pandu akhirnya. aku hanya mengangguk dan meneruskan menyalin karena sekar tampak akan mengambil bukunya.

"buset! ini hujan seneng banget turun nggak izin dulu" aku mengencangkan jaket hijau army ku yang sedikit basah. aku dan pandu terpaksa berteduh di depan circle k karena tiba tiba saja hujan turun deras. pandu membersihkan kacamatanya yang basah terkena air. air tampak mengalir dari jaket kulit hitamnya.
"sorry ya, gara gara aku ajak ke blind sketch kamu jadi kehujanan" katanya tampak menyesal. aku mengangguk mengiyakan dan memandang jam di tanganku. 15.15. "nggak bisa di ganti dulu shift nya ya? kasihan kamu kehujanan langsung kerja" lanjutnya seperti menyadari kecemasanku.
"ngak apa kok. lagipula kayaknya sebentar lagi berhenti" jawabku menenangkan. padahal kepalaku sudah terasa berat. pandu memandang cemas ke arahku dan memberikan jaket kulitnya untuk menambah pertahananku pada udara dingin. 15 menit kemudian hujan mereda, aku dan pandu lalu melanjutkan perjalanan ke black cup dengan kawasaki zx 6r putihnya. dan kepalaku terasa bertambah berat. semoga itu tanda otakku tambah besar, harapku.

aku menemukan diriku terbaring di sofa pantry black cup. beberapa mata tampak cemas menatapku.
"lo nggak apa, na?" mia dengan suara cemprengnya menyentuh keningku.
"nggak apa kok. kenapa gue malah disini?" tanyaku masih tak mengerti mengapa aku malah tiduran di sofa bukannya kerja.
"tadi kamu pingsan" pandu yang duduk di seberangku tampak merasa sangat bersalah. "maaf ya, na" lanjutnya lagi.
"nggak apa ndu, kurang makan kayaknya gue. jadi lemes" jawabku setelah mengingat tadi pagi aku belum sempat makan apa apa karena terlalu memikirkan kuis pak ismail dan saingpun jatah makanku dimakan galang. jadilah tak ada yang tersisa di tubuhku. mas cakra, menyuuruhku untuk pulang dan beristirhat karena percuma aku memaksakan bekerja dengan keadaan sempoyongan seperti itu. pandu yang mngantarku berkali kali meminta maaf bahkan dia sempat mengajakku ke dokter untuk diperiksa. tapi aku menolak karena aku merasa baik baik saja. selain itu aku juga tidak terlalu suka dengan dokter, walaupun mama seorang dokter. itu lain soal.

"gue sembuh, gantian lo yang sakit. terharu gue sama kesetiakawanan lo, na" nanda yang tampak sehat ceria datang menjengukku bersama galang.aku cuma cengar cengir.
"lo baru juga sembuh sudah marah marah gitu. sakit lagi tau rasa" balasku. nanda langsung menjitakku.
"na, ini sup jagung manggil manggil gue" galang melirik ke mangkuk sup diatas meja ku.
"makan saja. gue kenyang tadi sudah makan ko"
"wah, rezeki ngga kemana" galang langsung menyantap habis sup jagungku. aku dan nanda bertukar cerita selama dia sakit seminggu ini. dan baru aku sadari betapa kangennya aku akan suara cemprengnya itu. "eh, pandu sama aisha kan putus" obrolan aku dan nanda terhenti mendengar kata kata galang yang sepertinya tidak menyadari efek kata katanya itu.
"hah? kapan?" tanyaku kaget. tak heran aku dan nanda kaget, pandu dan aisha adalah pasangan serasi versi kami.
"tadi siang. gue juga kata rara" galang masih menaggapi kabar mahapenting ini seadanya.
"kenapa?" tanya nanda yang seperti wartawan kehausan berita. galang menghentikan makannya dan menatap aku dan nanda bergantian.
"katanya aisha sudah ml sama cowok lain dan pandu marah berat. walaupun katanya aisha ngebantah dan nggak mau putus sama pandu" jawab galang sedikit mendramatisir. aku menutup mulutku, kaget. aisha yang tampak bagai bidadari itu? apa iya?
"tapi 2 hari yang lalu pandu nggak cerita apa apa kok. malah dia biasa saja. yakin lo, lang?" tanyaku berusaha berpikir positif. karena memang saat pandu memintanya mengantar ke blind sketch dia tampak biasa saja. tidak seperti orang yang sedang punya masalah. galang hanya mengangkat bahunya. ya, aku juga tidak mengharapkan mendapat banyak info dari galang sih. secara dia itu tidek terlalu peduli dengan hal seperti itu kalau bukan karena kebetulan. aku dan nanda berpandangan penuh arti.

"makanya, gue bilang juga apa. kalau pagi makan dulu. bandel banget sih" mas juna mengomeliku. aku mencibir ke arahnya. mama yang ada di sampingku hanya mengelus elus rambutku. mas juna memang lebih galak dibanding mama. mungkin karena dia merasa satu satunya pria yang bisa diandalkan di keluarga.
"mas juna, ada mas dika di depan" mbok parmi, pembantu kami yang sudah tua menghampiri aku, mama dan mas juna yang sedang asyik menonton tv.
" suruh kesini saja mbok, dia mau nengok si kirana paling" kata mas juna. mbok parmi menurut.
"kok nggak bilang mas dika mau kesini?" kataku kesal. bagaimana tidak, aku hanya mengenakan piyama pendek mickey mouse ku dan muka kuyu. mana mungkin aku menemui dika seperti itu?
tak lama mbok parmi dan mas dika masuk ke ruang tengah. andika yuda pratama, adalah teman baik mas juna semenjak kuliah. dengan badan ideal, kulit sawo matang dan razor haircutnya yang membuat rahang tegasnya jelas terlihat.
"malam tante, kirana" suara mas dika yang berat langsung membuatku bergetar. ditambah lagi aroma burberry man nya yang sangat familiar. "maaf, saya baru sempat kesini menengok" lanjutnya sambil menyerahkan apple pie yang masih hangat. kesukaanku.
"wah, kok repot repot segala, dik. malah jadi nggak enak tante" mama menerima apple pie itu dan memawanya ke dapur untuk dihidangkan. mas dika duduk di sampingku. membuat nafasku semakin kencang memburu.
"sudah turun demannya" katanya setelah menyentuh keningku. badanku justru makin memanas setelah sentuhan itu. "kamu terlalu cape kali, na" aku hanya tersenyum mendengarnya. tak tahu harus membalasa apa dengan keadaan hati yang dag dig dug dhueer.
"si kirana memang bandel saja tuh. pengen diperhatiin kali" mas juna mulai memancing kerusuhan. kakakku itu tahu bagaimana perasaanku pada sahabatnya itu. tapi dia juga yang memintaku untuk tak terlalu berharap. bukan karena tidak setuju, dia hanay tak ingin aku sakit hati nantinya. karena kakaku tahu sekali andika belum siap berpacaran lagi setelah kehilangan tunangannya 4 tahun lalu akibat kecelakaan yang diakibatkan oleh dirinya. sejak saat itu, dia memilih sendiri hingga sekarang. terlalu sedih dan merasa berdosa, kata mas juna saat aku cerita mengenai perasaanku pada andika. dan sampai sekarang aku hanya bisa menerima dainggap adik oleh andika. cukup puas walau hanya bisa menerima perhatiannya sebagai kakak.

aku dan galang sedang duduk di bawah pohon beringin taman kampus untuk mencari udara  segar sekaligus menunggu nanda yang masih ada kuliah saat amara dan rima menghampiriku.
"ada apa?" tanyaku merasa tak punya urusan dengan mereka. dua orang ini dikenal sebagai kembang kampus yang selalu mengeksklusifkan diri. makanya aku heran saat mereka bilang ada urusan denganku.
"gue cuma mau bilang sama lo, nggak usahlah ngerebut pacar orang. toh disini kan masih banyak orang. apa lo se desperate itu?" amara yang tanpa basa basi menatapku sinis. aku yang tidak tahu apa apa hanya bengong.
"excuse me?" tanyaku masih tak mengerti.
"lo nggak usah sok plos gitu deh, kita tahu kok alasan pndu putus sama aisha itu gara gara lo, kirana" gantian rima yang menuding nudingku. merasa terhina dengan perlakuannya aku hempaskan telunjuknya dengan sedikit kasar hingga membuat rima tersentak.
"sorry, gue nggak tahu lo ada masalah apa sama gue. tapi omomgan lo tentang gue itu sangat salah. jadi tolong lo nggak usah tunjuk tunjuk gue begitu" aku kesal. galang memegang tangan kiriku berusaha menenangkanku.
amara dan rima meninggalkanku yang masih tak mengerti apa yang terjadi.

"jadi orang pikir, gue yang jadi penyebab putusnya pandu sama aisha? damn! kenapa jadi gue yang kena sih?" aku menendang batu yang ada di depan kakiku setelah mendengar cerita nanda yang mengatakan bahwa gosip yang beredar aku yang membuat pandu meninggalkan aisha. gosip macam apa itu?
"mungkin karena waktu itu lo diantar pandu ke rumah waktu sakit" nanda mencoba menjawab pertanyaanku. aku menggeleng, yakin bukan karena itu. karena kalau memang ada apa apa mungkin sudah dari dulu berita itu menyebar.

"hai, tumben main kesini" kataku melihat siapa pengunjung yang baru saja duduk di black cup. pandu. "janjian?" tanyaku lagi sambil memberikan menu black cup padanya. pandu menggeleng
"aku mau ngomong sebentar sama kamu" katanya masih menatap tajam ke arah ku.
"soal apa?" kataku mulai bersiap diri mendengar nada bicaranya yang serius.
"aku mau minta maaf" lanjutnya.
"kayaknya belakangan ini lo lagi obral maaf ya?" aku berusaha bercanda. "gue sakit bkn gara gara lo ko. emang badan gue ngedrop"
"bukan soal itu" pandu menggantung kalimatnya. "soal gosip yang beredar tentang kamu dan aku" tambahnya. aku masih diam menatapnya.
"oh, nggak apa. namanya juga gosip, ndu" jawabku santai.pandu terdiam sebentar seperti berpikir. melepas sebentar kaca matanya.
"aku suka kamu" katanya kemudian setelah dia memakai kembali kacamatanya. aku terdiam. kaget. selama ini aku tak pernah menganggapnya lebih dari teman satu tim. okelah, selain mengaggumi fisiknya. tapi cuma itu.
"bercanda kamu" hanya itu yang bisa aku katakan. pandu menggeleng dan menatapku. tatapan yang walaupun terhalang kacamata terasa menusuk dan mengintimidasiku.menandakan dia serius dengan kata katanya. "terus?" aku menanyakan maksudnya mengungkapkan perasaanya padaku. pandu tampak salah tingkah. dia lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"nggak, aku cuma mau kamu tahu" jawabnya.
"oke. jadi mau pesan apa?" tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan. pandu mengambil daftar menu yang aku berikan tadi. maaf pandu, ada hati lain yang sedang aku kejar, kataku dalam hati.

"mas dika!" aku mengenali sosok andika diantara kerumunan pengunjung national plaza yang cukup ramai hari itu. tak menyangka akan bertemu dengannya saat aku mengantar nanda berburu dress yang baru dia lihat di majalah vogue baru. andika terlihat celingukan mencari suara yang memanggilnya.
"hei, kirana" sapanya setelah aku menghampirinya. andika tterlihat santai dengan kaos polo merah marun dan jeansnya.
"wah, nggak nyangka ketemus mas dika disini" kataku. karena setahuku andika adalah tipe orang yang malas berada di tengah keramaian.
"iya, mengantar teman belanja" jawabnya. aku memandang curiga ke arahnya. teman? belanja? dua kata itu membuatku menyimpulkan teman belanjanya itu adalah seorang wanita. hatiku mencelos. mas dika bersama seorang wanita?
"wah, pantesan. pasti temannya spesial" sindirku. amdika hanya tersenyum.
"hahahaha,,,bisa saja. kamu sendiri lagi apa?" tanyanya balik.
"nemenin nanda, mas" kataku tidak sebersemangat tadi. mataku menlihat ke sekeliling andika mencari sosok 'teman spesialnya' itu.
"nah, kamu sendiri nemenin teman. sama kaya aku juga kan" aku tersenyum singkat. "oh, itu temanku" telunjuk andika mengarah pada satu wanita berambut panjang, berkulit kuning langsat yang menggunakan grey drapped dress. wanita itu berbalik dan aku dapat melihat jelas wajahnya. terlalu jelas hingga membuatku sulit memungkiri penglihatanku. raden aisha kemala putri. aisha. kenapa mas dika bisa kenal dengannya?, pikirku. aku memutuskan pamit sebelum aisha melihatku. karena entah mengapa takdir sepertinya ingin mempertemukanku dengan dia.
"wah mas, aku lupa bilang sama nanda aku kesini. barangkali dia cari aku" kataku berusaha terlihat panik. andika sepertinya mengerti dan tersenyum mengizinkanku pergi. aku hanya tak ingin memperkeruh keadaan. keadaan hatiku tepatnya.
mandi air hangat malam hari setelah seharian kuliah dan kerja adalah obat terbaik mengembalikan tenaga yang sempat hilang. masih dengan handuk menggantung aku mencium pipi mama yang sedang asyik membaca majalah kesehatan di ruang tengah.
"mas juna sudah pulang ma?" tanyaku karena tidak melihat kakakku itu ada di ruang tengah. biasanya malam begini mama, mas juna dan aku menghabiskan waktu bersama sebelum tidur.
"sudah kok, tapi tadi ada telepon penting katanya" jawab mama.eletakkan kacamata dan majalah ya ng sedang dibacanya di meja untuk memanjakanku.sentuhan mama juga obat terbaik mengembalikan energi dan moodku hari itu. tak lama mas juna bergabung bersama kami. aku tak bisa menahan rasa penasaranku soal andika. Saat mama pergi ke kamar aku lalu melancarkan basa basi busukku.
"tadi aku ketemu mas dika lho" kataku memulai pembicaraan. mas juna menatapku sekilas." kaget saja ketemu dia di national plaza. “dia bareng cewek lho, mas” aku menambahkan dengan nada memprovokasi. Tapi mas juna tetap fokus dengan laptopnya. Aku mendengus kesal.
“kirana, bisa nggak kamu berhenti mengurusi urusan orang lain” kata mas juan kemudian dengan intonasi datar namun dingin. Aku kaget mendengar kata kata itu keluar dari mas juna. Aku hanya menatapanya. Tapi mas juna tetap fokus pada laptopnya. Aku menekuk wajahku dan memainkan bantalan sofa. “dan tentang dika, can you stop it?” tanyanya. Aku kembali menatapnya. Mas juna akhirnya menatap ke arahku. “he’s not available anymore” aku tercekat. Wajahku saat itu pasti sangat jelas menggambarkan perasaanku dan kekagetanku.
“tapi kata mas juna ...” belum sempat aku meneruskan kalimatku, mama sudah datang dengan membawa majalah baru. Dan pembicaraan kami terhenti. Tapi mas juna mlirikku dan mengisyaratkan untuk melanjutkan pembicaraan tentang dika di kamarnya.

“kamu kenal aisha?” mas juna balik bertanya saat aku bilang wanita yang aku lihat bersama mas dika tadi siang adalah teman satu kampusku. Aku mengangguk.
“tapi kata mas juna, mas dika susah buat pacarn. Kenyataanya?” tanyaku kesal. Mengingat alasan mas dika selama ini memilih menjomblo.
“yah, gue juga nggak begitu ngerti jalan pikiran dia”mas juna mengaduk teh susunya yang masih panas. Minuman kesukaanya sejak kecil.tapi kenapa harus aisha? Pikirku. Kenapa harus wanita itu lagi?.
“mas, tapi gosipnya, aisha itu sudah ...” aku ragu ragu meneruskan kalimatku. Aku tak mau dianggap menjelek jelekan orang lain hanya karena masalah pria. Mas juna menatapku penasaran. “sudah nggak virgin lagi” aku lalu melanjutkan kalimatku perlahan. Mas juna mendesah.
“iya, karena itu alasannya”aku masih tak mengertimaksud mas juna. “aisha itu adik jasmin, tunangan andika yang meninggal karena kecelakaan” mas juna melanjutkan.
“wah, jadi nggak dapat kakaknya, terus mas dika sama adiknya gitu? Nggak nyangka mas dika orang seperti itu” aku yang kesal hanya bisa merutuki kelakuan mas dika.
“kirana, masalahnya nggak semudah itu” mas juna menatapku tajam. Mungkin bagian dari dirinya tak suka sahabatnya disalahkan, tapi bagian lainnya ingin melindungi adik kesayangannya.
“terus apa?” tanyaku nyolot. Merasa dibohongi selama ini.
“aisha hamil. Dan mamanya meminta tolong andika untuk mau menikahi aisha”aku hanya bisa terdiam. Mematung.
“hah? Kenapa jadi mas dika yang kena getahnya?” tanyaku kemudian. Kesal, marah dan cemburu menjadi satu dalam diriku saat itu. “dan mas dika mau begitu saja?” tanyaku lagi. Mas juna mengalihkan pandangannya dariku. Aku menarik kaosnya agar dia mau melihatku.”mas?” tanyaku lagi. Mas juna mengangguk. Aku lemas.
“andika merasa bersalah atas meninggalnya jasmin. Selama ini, hal itu yang mengganggunya. Dan dia mau melakukan apa saja untuk menebus rasa bersalahnya itu” saat itu aku menganggap andika yuda pratama adalah manusia terbodoh sejagat raya.
Kenapa dia hatus bertanggung jawab atas hal yang tidak dilakukannya hanya karena bayang bayang masa lalu yang sudah merupakan takdir? Kenapa dia masih mau hidup dalam rasa bersalah yang sebegitunya?
“tapi aisha dan jasmin itu kan orang yang beda mas?” tanyaku. Aku rasakan mataku memanas. Mas juna mendekatiku, bersiap memelukku.
“makanya, mas nggak mau kamu sakit lebih jauh lagi” mas juna memelukku. Aku menangis di pelukannya. “kita tidak pernah bisa merubah cara pikir seseorang kalau orang itu sendiri menganggap apa yang dipirnya benar, na. Gue sudah bilang sama dika kalau ini bukan tanggung jawab dia. Tapi gue tahu, selama ini dia hidup dalam rasa bersalah yang amat sangat. Mungkin ini yang bisa bikin dia merasa lebih tenang” mas juna mengelus kepalaku lalu menepuk pundakku. Aku hanya bisa diam dan menangis. Aku hanya tidak rela kehilangan seseorang yang sangat aku sukai dengan cara seperti ini. Bahkan saat aku belum sempat menunjukkan padanya perasaanku. Semalaman itu aku menangis di kamar mas juna. Tidak memperdulikan tumpukkan tugas yang harus aku kumpulkan besok, tidak peduli dengan akibat mata bengkak yang akan menghiasi mataku besok. Aku terlalu tidak peduli dengan segalanya dan sibuk menyalahkan keadaan. Menyalahkan hidup yang tidak adil. Dan menyalahkan segalanya agar membuatku lebih tenang. Tapi perasaan itu masih menggantung disana. Hinnga aku terlelap di kamar mas juna.

“wah, tumben kamu pulang malam, kirana?” mama menyambutku dengan kecupan di keningku. Hari itu aku menemani galang berburu tempat foto dan menjadi model dadakannya. Kegiatan baruku semenjak tragedi patah hatiku. Aku hanya tak ingin sedetikpun memikirkan andika dan kebodohannya itu. “ya sudah, sana mandi, makan lalu istirahat” pesan mama karena sedang ada tamu. Dengan lunglai aku memasuki ruang tengah. Tiba tiba darahku seolah berhenti mengalir. Melihat andika masih berjas dan kemeja, duduk sambil membuka buka majalah baru.
“hei, kirana. Lama nggak ketemu ya? Katanya sekarang jadi model ya?” tanyanya setelah menyadari kehadiranku. Aku hanya tersenyum seadanya. Semenjak kejadian itu aku memang selalu menghindar darinya. Dan baru saat ini aku bertatap muka lagi dengannya. Aku merasa tidak melihat soluna nya di luar tadi, pikirku.
“nggak juga mas, nyoba aja” kataku malas.
“ooh, tapi kamu cocok kok jadi model” lanjutnya dengan senyum mengembang yang sampai sekarang masih memukauku.
“bisa saja. Lho, mas juna kemana? Kok malah ditinggal sendiri?” tanyaku tidak melihat kehadiran kakakku.
“tadi aku yang bawa mobilnya pulang, arjuna ada meeting. Nggak apa kok, sebentar lagi juga pulang. Lagipula aku juga ada perlu sama tante ida” aku hanya mengangguk. Ingin rasanya cepat pergi dari sana. Tapi sebagian jiwaku ingin tetap disana. Baru kusadari aku sangat merindukannya. Senyumnya, suaranya, aroma tubuhnya, perhatiannya, dan semua tentang dia.
“ada perlu sama mama?” tanyaku heran. Andika mengangguk. Lalu dia mengeluarkan sebuah benda berwarn kuning tembaga dari tasnya.
“iya, mau kasih undangan pernikahanku bulan depan” andika meyerahkan undangan itu ke tanganku. Tanganku terasa panas. Saat aku melihatsampul undangannya dan menemukan Rd. Aisha Kemala Putri & Andika Yuda Pratama dalam satu frame, panas itu menjalari tubuh lalu mataku.

No comments:

Post a Comment