October 26, 2010

Destiny's Game


"This ain't a scene i'd love to watch, this ain't a game i'd joy to play"

aku melihat jam yang melingkar di tanganku, sudah 2 jam ternyata aku menunggu faisal, temanku, yang katanya punya kerjaan untukku. kopi di cangirku sudah dingin. tak lama aku melihat faisal memasuki black cup dengan tergesa gesa.
"lama banget sih, sal? lupa jalan kesini?" aku langsung menyambutnya dengan wajah kesalku
"sorry, cas. tadi gue ada rapat mendadak, ngaret pula. didn't mean to make you angry" faisal langsung duduk dan melonggarkan dasinya.
"iya deh, tapi gue nggak mau tahu ini semua lo yang bayar. siapa suruh nbikin gue nunggu berjam jam? mentang mentang gue nggak ada kerjaan gitu?" cerocosku. faisal tampak kaget melihat 2 cangkir kosong dan 1 cangir setengah terisi diantara 2 piring kecil yang sebelumnya berisi croissant dan blueberry muffin. "salah sendiri bikin gue lumutan disini" desakku. faisal mengangguk pasrah.
"jadi ada pekerjaan apa ni?" tanyaku setelah faisal beres memesan makanannya. dia mengeluarkan map biru berisi fila-file antah apa itu dari tasnya.
"ada temen gue mau bikin eo gitu. biasalah orang tajir kebanyakan duit yang bingung mau dikemanain itu tumpukan duitnya. dia butuh orang orang kreatif inovatif aktif gitu deh. ya gue langsung keinget sama lo. siapa tahu lo tertarik apply" faisal memberikan penjelasan singkat sambil memberikan selembar kertas berisi draft rintisan eo itu berjudul hiel diatasnya. dibawahnya dujelaskan dengan singkat latar belakang dan profil hiel serta bagian bagian apa saja yang masih membutuhkan sumber daya manusia, yang faisal bilang, kreatif, inivatif dan aktif itu. terus terang aku memang tertarik mencobanya karena ternyata aku tidak cocok bekerja terlalu lama dan duduk anteng di belakang meja. selain karena bosan bisa berimabs buruk pada meneposnya pantatku. 
"bagaimana?' tanya faisal, lalu menyesap moccacino nya yang baru datang dan masih tampak panas. itu anak lidahnya lidah kucing kali ya
"kayaknya bakal gue coba deh" jawabku setelah membaca profil hiel. "siapa tahu cocok. lumayanlah bisa rada gerak ni badan. kasihan pantat gue kelamaan didudukin" lanjutku dan menyerahkan file itu pada faisal. faisal menyuuhku untuk menyimpannya. aku lalu memasukkanya ke dalam choco tote bag ku.
"jadi itu alasan lo resign dari matahari tunggal?" tanyanya tersenyum jail menggodaku. "padahal kan nggak apa juga pantat lo tepos selama dompet lo tebel" tambahnya. aku menepuk jidatnya dengan hp ku. aku jadi teringat tempat kerjaku yang lama itu, sebuah perusahaan ekspor garmen yang cukup bonafid, tapi kerja disana seperti berada di jaman kolonial belanda.selain itu persaingan di dalamnya juga tidak sehat, aku yang memang dari awal tidak terlalu sreg bekerja disana memutuskan resign. masuknya aku ke matahari tunggal pun karena tawaran om sam, adik papa yang sudah menjadi senior disana.

"gue terlalu muda untuk terjebak di tempat eperti itu, sal. gue nggak mau menyia nyiakan masa muda gue. soal dompet mah gampanglah, toh rejeki kan nggak akan kemana" jawabku sok bijak. dan untungnya keluarga ku mengerti keputusanku itu, walaupun awalnya papa sempat tidak setuju karena merasa tak enak hati pada om sam. tapi tampaknya beliau tidak tega melihat anak gadisnya perlahan kehilangan berat badan selama bekerja di sana.

aku tergesa gesa memasuki sebuah lobi bangunan minimalis yang tidak terlalu mewah namun tetap berkesan wah. tempat dimana hiel beroperasi. dengan jeans hitam, white loose top dan blazer biru muda, aku mengikuti jalur antrian interview hiel. saat aku datang sudah ada sekitar 20 orang yang mengantri. semuanya kira kira berusia 20-30 tahunan. aku celingukan mencari kusri kosong untuk meluruskan kakiku.

seorang pria bewajah mirip angga maliq & the essentials saat berambut cepak melambai ke arahku. aku sempat bingung dan ragu, siapa tahu dia bukan melambai padaku, tapi orang lain di sekitarku. aku menunjuk diriku, mengisyaratkan apakah aku yang dimaksud atau bukan.
"sini" panggilnya setelah mengangguk membalas isyaratku dan menunjukkan kursi kosong disebelahnya. dengan sedikit ragu aku menghampirinya. 
"thanks ya" kataku setelah sampai dan duduk di sebelahnya.
"yup. siapa tahu kita jadi partner kerja di sini" jawabnya sambil nyengir. "zicco" lanjutnya sambil mengulurkan tangannya padaku. aku menyambut uluran tangannya dan merasakan tangan yang sedikit kasar, kuat namun menghangatkan.
"cassy" kataku memperkenalkan diri. zicco tersenyum lalu melepaskan headphone yang sedari tadi menggantung di lehernya. tercium aroma kayu khas bvlgari extreme dari tubuhnya.
"jadi kamu tertarik di bagian apa?" tanyanya mulai membuka pembicaraan. tipe sanguinis sejati.
"belum kepikiran. apa aja kayaknya oke. aku baru juga sh di dunia beginian, jadi ya bakal sama sama belajar dari awal" jawabku seadanya.
"wah, serius?"tanyanya seolah tidak percaya dengan jawabanku. "memangnya dulu pernaha kerja di eo juga?" tanyanya lagi. aku menggeleng.
"dulu marketing di perusahaan" jawabku polos. zicco tampak kaget. mungkin dia pikir aku bodoh melepas pekerjaan tetap yang menjanjikan untuk sebuah pekerjaan yang bergantung pada datangnya klien.
"aneh" katanya pelan dan aku hanya tersenyum. itulah awal perkenalanku dengan Zicco Putra Hadisuryo. pria yang ternyata usianya 2 tahun lebih muda dariku. yang akhirnya menjadi partnerku di hiel.

event organizer adalah dunia baru bagiku, tak heran jika aku merasa antusias mempelajarinya. proyek pertamaku adalah menyelenggarakan pernikahan seorang anak pengusah ternama dengan tema pewayangan yang amat sangat jawa. walau terdengar sederhana, tapi ternyata lebih rumit dari yang aku bayangkan. selain berurusan dengan berbagai macam karakter orang yang ingin semua idenya terwujud dan juga sangat perfeksionis tidaklah mudah. jadi sudah saatnya melatih kesabaran selain melatih kebugaran supaya fit kesana kemari.

"hei, kamu tampak capek" seorang pria dengan kacamata raybannya menghampiriku yang baru selesai mengatur susunan pot di depan layar yang akan digunakan untuk melakonkan wayang. 
"lumayan" jawabku singkat karena merasa tak perlu berbasa bsai dengan si orang asing itu. tak kusangka dia  malah menawarkan sekaleng pocari sweat padaku. aku hanya mentapanya heran
"aman. ngga aku kasih obat tidur apalagi racun kok" katanya seolah tahu pa yang aku pikirkan. terlalu banyak mengonsumsi siaran berita juga ternyata tidak baik untuk kesehatan, karena akan membuatmu selalu merasa was was. terlebih lagi ketika ada seorang yang berniat baik pada kita. aku lalu meraih kaleng pocari itu setelah mempertimbangkan kecil kemungkinannya si orang asing ini berbuat jahat padaku di tengah keramaian otang seperti saat ini.
"thanks, ..." balasku dan menggantungkan kalimatku karena aku tak tahu namanya.
"Rama" jawabnya dan mengulurkan tangan yang lalu aku sambut baik. rama tyang ernyata adalah teman si memepelai pria, adalah orang yang sangat humble. sopan dalam berbicara namun tidak kaku, malah sangat menarik dan menyenagkan untuk diajak ngobrol. hampir setengah jam kami ngobrol sampai akhirnya mas arman memanggilku untuk briefing.
"oke, nice talk, cas" katanya sambil berlalu dan meninggalkan senyum yang membuat hatiku berdebar.

acara pernikahan, haikal dan gadis berjalan lancar dan sukses. syukurlah hasil kerja kami mendapat apresiasi positif. mas arman pun tampak bangga pada kami. setelah selesai briefing malam itu, mas arman mengajak kami ke igaiga. tapi berhubung aku adalah vegetarian, aku langsung pulang setelah acara syukuran itu. 

black cup malam itu tampak sedikit lengang. hanya ada beberapa orang disana. aku mengambil tempat duduk di pinggir jendela agar dapat melihat jalanan yang hanya diterangi lampu jalanan. entah mengapa pemandangan itu membuatku merasa tenang. sambil menunggu espresso dan cheese muffinku datang, aku membuka laptopku. aku mencium aroma parfum yang agak familiar di sekitarku. aroma segar acqua di gio nya armani. tapi aku lupa dimana aq menciumnya baru baru ini. sampai sumber aroma itu mendekatiku.
"nggak nyangka malah ketemu disini" rama dengan kemeja merah marun yang digulung selengan menghampitiku dengan membawa jas hitam di tangannya. tampal bersinar dibawah lampu black cup yang diseting meremang.
"sama" kataku berusaha menyembunyikan kekagetanku atas pertemuah yang tak disangka ini.
"janjian sama orang?" tanyanya sambil melihat kesekitar lalu kekursi di depanku. aku menggeleng dan mempersilakannya duduk. aku memebreskan tas laptop, handphone dan organizer yang berantakan di atas meja.
"acaranya sukses ya waktu itu" tanyanya memulai pembicaraan. entah mengapa aku mnedadak gugup, entah karena kami hanya berdua atau tatapan matanya yang langsung mengarah ke mataku penyebabnya. 
"ya, untungnya" jawabku singkat karena tak tahu harus berkata apalagi. aku mengaduk espressoku yang baru sampai, sekadar untuk mengurangi kegugupanku.
"nanti perusahaanku mau bikin acara launching product sama grand opening new branch, kira kira hiel mau jadi eo nya nggak ya?" tanyanya langsung tanpa basa basi. aku kaget karena belum sampai 5 menit kita ngobrol dia sudah menawarkan kerjaan. what a day! batinku.
"wow, serius?" aku balik bertanya padanya. rama mengangguk mantap. "oke, nanti kamu ke hiel aja langsung. sharing idenya dulu. biar lebih enak dan jelas" kataku lalu memberikan kartu namaku yang berisi alamt hiel.

jadilah malam itu aku menghabiskan waktu dengan rama praditya wardhana, yang merupakan seorang pengusaha muda di bidang telekomunikasi. jam jam yang membuatku makin mengaggunimya. tidak hanya karena pembawaanya, tapi juga cerita hidupnya yang memulai usahanya dari nol dari umur yang ternyata masih muda. dan saat itu juga aku mnyadariaku menyukainya. love works in mysterious way is definitely true. in my case it happens at the second sight.

"oke, jadi cassy yang akan jadi project leader kali ini. jadi kalau ada apa apa kalian bicarakan sama dia" mas arman yang sedang bicara dengan rama menunjuk ke arahku. yang sedang membereskan bahan presentasiku. rama mangacungkan jempolnya padaku yang aku balas dengan senyuman., karena tanganku penuh dengan barang
jadilah mulai saat itu aku dan rama mulais sering menghabiskan waktu bersama untuk sharing di black coffee. karena ternyata kami berdua sama sama pecinta minuman hitam itu.

"jadi bagaimana kalu tema acaranya magic? sekarang lagi booming kan yang kayak gitu. nanti bisa masukin kejutan kejutan gitu. lagipula dress code silver and balck tampak simple tapi elegan. gimana?" tanyaku setelah rama memberikan point point apa saja yang ia ingin ada dalam acaranya. rama berpikir sejenak dan mengangguk menyetujui ideku. 
"sounds great, cas!" katanya kemudian. aku tersenyum mendengarnya. bukan karena pujiannya, tapi lebih karena orang yang mengatakannya adalah rama. have you ever felt that kind of weird feeling? trying damn hard for the one who you felt in love with?

hari hari selanjutnya aku habiskan untuk menyempurnakan konsep acara rama. aku ingin dia mendapat yang terbaik. aku ingin acaranya berlangsung sukses dan memuaskan.tak peduli aku harus menambah jam kerjaku, takaran kafeinku dan berubah jadi miss perfectionist yang abnyak komentar. dan ditengah kesibukanku itu aku masih menyempatkan diri bertemu rama untuk melaporkan perkembangan acaranya. rasa lelah dan kesalku terbayar setelah melihat senyum puas tersungging dari bibir rama.

hari launching product dan grand opening new branch blue communication pun tiba. dengan puas aku memandangi hasil kerjaku beberapa minggu ini,sebelum acara dimulai aku sudah memerikasa kembali apa saja yang menjadi bagian acara agar tak ada kesalahan. aku menggunakan black tube dress ku yang dipadu dengan bel dan wedges silver sesuai tema acara malam itu karena rama memintaku berdandan formal malam itu. jadi untuk urusan lapangan aku serahkan pada zicco.
setelah puas memeriksa semuanya, mataku menyisir seluruh ruangan mencari sosok rama. saat melihatku dia melambaikan tangannya memanggilku. dengan perasaan senang aku menghampirinya, yang saat itu tampak gagah dengan long black tuxedo dan silver scarf nya. selain itu hal mask silvernya juga membuatku ingin menjadi usagi dalam sailor moon. 
"lho. mak sandra?" tanyaku dengan nada kaget melihat kakaku ada di antara beberapa tamu yang ada di dekat rama. mbak sandra tampak kaget, begitu juga rama.
"lho, jadi kalian kenal?" tanya rama ke arahku dan mbak sandra.
"ini kan adikku, mas" kata mbak sandra sambil tersenyum merangkulku penuh sayang. aku yang masih clueless hanya tersenyum kikuk.
"ya ampun! jadi ini toh calon adik iparku?" rama menepuk pundakku. saat itu juga aku menyesal keluar dari matahari tunggal.




2 comments:

  1. hahaha....cerita yang bodor!!!
    lanjutkan,,dinda!!

    ReplyDelete
  2. kebayangnya darius
    hahahahaha
    baiklah kaka

    ReplyDelete